[FF] Elegy (Chapter 10)

21 Nov

 

Judul FF                    : ELEGY (Part 10)

Nama Author         : Similikiti_balabala

Main Cast                  :

Cho Kyu Hyun (SJ) as Cho Kyu Hyun  

Seo Joo Hyun (SNSD) as Seo Joo Hyun

Jung Jin Woon (2AM) as Jung Jin Woon

 

Lee Donghae (SJ) as Lee Donghae

Jung Soo Yeon /Jessica Jung (SNSD) as Jessica Lee

 

Shim Chang Min (DBSK) as Cho Chang Min

Kim Jong Hyun (SHINee) as Cho Jong Hyun

Choi Min Ho (SHINee) as Cho Min Ho

Jung Soo Jung/Krystal Jung(f(x)) as Krystal Cho

 

Jung Eun Chan as Owner Jung Advertising / Jin Woon’s grandpa (Fictional)

Cho Sang Hyun as Leader of Cho’s Gangster (Fictional)

 

Genre                          : Romance,  Sad

Type                           : Chapter

DONT BASHING!!

DONT PLAGIAT!!

DONT COPASTE!!
DONT FORGET TO RCL!!!

 

Annyeong … muncul juga kan nih ff. Pffftttt~~~

Aku gatau kalo chapter yg ini kyk gmn :p

HAppy reading!! Gomawo🙂

 

Previous chapter

Dan detik jam terus berlalu. Begitu lambat. Begitu terasa amat lambat …

Seohyun menyeka airmata. Sekuat tenaga ia mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia pun mulai berdiri kembali. Dengan sedikit tertatih, Seohyun kembali menaiki bukit kecil itu. Perlahan, pikirannya mengangkasa jauh. Memorinya memutar kembali semua kenanagan indah bersama Kyuhyun. Saat pertama kali dirinya bertemu dengan namja itu. Saat dimana namja itu selalu menggodanya. Dan juga saat semua rintangan-rintangan berusaha memisahkan mereka berdua. Hingga akhirnya mereka harus berpisah … hanya karena sebuah kenyataan lain yang justru sangat melukai perasaan Seohyun. Semua itu benar-benar di luar dugaan Seohyun. Namun, berkali-kali Seohyun berpikir … semua itu adalah keputusannya.

Keputusan untuk mencintai seorang pembunuh. Dan seharusnya memang ia telah siap jika pada akhirnya ada kenyataan lain yang akan melukai perasaannya.

Seohyun sadar … selama seminggu perpisahannya dengan Kyuhyun, semua itu seperti tidak dapat dipercaya. Selama ini ia bersusah payah mempertahankan agar Kyuhyun terus berada di sisinya, dan entah mengapa … ia merasa menjadi tidak adil jika akhirnya harus membiarkan namja itu pergi.

Kali ini … ketika ia telah memikirkan semuanya dengan amat matang. Seohyun pun tak peduli lagi dengan luka di hatinya. Sebisa mungkin ia menutup luka hati itu.

Sampai kapanpun ia akan melindungi Kyuhyun, namja yang tak lain adalah suaminya sendiri.

Sepuluh menit berlalu. Seohyun menghela napas tenang. Ia menghentikan langkah kakinya tepat di samping bangunan gereja tua. Matanya berhasil mendapati seorang namja dengan mantel berwarna hitam, tengah terduduk sendiri sambil menatap ke langit angkasa. Sama seperti dirinya, namja itu tak peduli pada salju tebal yang menerpa wajah dan mantelnya.

“Oppa …” lirih Seohyun dengan mata berkaca-kaca.

Seketika itu juga, tubuhnya jatuh tak berdaya.

***

Kepak sayap ini melemah

Dan aku terhempas

Jauh ke dasar laut yang tak pernah kuduga

 

Lalu dia datang

Dingin …

Ya, tangan dinginnya merengkuh tubuh lemahku

_Seohyun_

TBC

***

 

Elegy chapter 10

Author’s pov

            Terik matahari menerpa lembut wajah putih porselen milik Seohyun. Hal itu tentu saja mengusik ketenangan yang semula dirasakan oleh yeoja itu. Perlahan, Seohyun membuka kelopak mata. Ia mengerutkan kening. Berusaha mengingat kembali apa yang ia lakukan terakhir kali sebelum kesadarannya membeku. Dirasakan seluruh persendian dan tulang-tulangnya terasa sangat kaku. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tidur yang kini membaringkan tubuhnya dengan begitu tenang.

Lantai kayu coklat tua dan barisan dinding kayu dengan warna yang lebih muda. Tak ada satupun lukisan yang terpajang pada dinding kayu tersebut. Dengan cepat Seohyun menyimpulkan bahwa dirinya tidak berada di rumah barunya yang sederhana tersebut. Ya, tentu saja. Seohyun yakin bahwa Jessica dan Jin Woon kehilangan arah ketika mengejar dirinya. Dan itu artinya ada seseorang yang telah menyelamatkan dan menolong dirinya dari badai salju semalam di Busan. Entah seseorang itu siapa, Seohyun sangat yakin jika orang tersebut adalah Kyuhyun.

Seohyun menghela napas. Sedetik kemudian ia bangkit berdiri dari ranjang tidurnya. Ia tak sabar memastikan seseorang yang tengah menyelamatkan dirinya semalam.

“Ternyata kau sudah sadar, Joo Hyun-aah …” ucap seseorang dari balik pintu. Sosok itu pun masuk tanpa rasa sungkan sedikitpun.

“Nenek Hye Sung?! Kau …” ucap Seohyun setengah tidak percaya.

“Kondisimu semalam benar-benar buruk … Aku bahkan tak tahu harus berbuat apa untuk menolongmu.”

“Nenek, katakan padaku … dimana Kyuhyun Oppa, Nek?!” pekik Seohyun dengan penuh rasa panik. Ia mengguncang-guncangkan tubuh nenek Hye Sung yang sedikit renta.

“Joo Hyun, tenanglah … Kondisimu masih sangat lemah. Ini ada secangkir teh hangat untukmu …” jawab nenek Hye Sung berusaha menenangkan Seohyun. Namun hal tersebut tak berpengaruh bagi Seohyun.

“Anniyo! Katakan padaku Nek, dimana Kyuhyun Oppa?! Aku yakin dia yang menyelamatkan aku semalam. Aku sangat yakin jika aku bertemu dengannya semalam …” ujar Seohyun tak menyerah. Ia menatap dalam kedua mata nenek Hye Sung. Berusaha membaca garis mata yeoja tua itu.

“Joo Hyun-aah … apa yang kau bicarakan? Kau pasti salah melihat orang … Sudahlah, kau tenangkan dirimu terlebih dahulu. Setelah itu …”

“Anniyo!! Aku tahu bahwa Kyuhyun Oppa yang menolongku! Semalam aku benar-benar melihatnya berdiri di samping gereja. Aku tahu, selama ini dia pasti menungguku di sana.”

“Joo Hyun …”

“Nenek, aku mohon padamu. Katakan dimana Kyuhyun Oppa sekarang. Aku ingin menjelaskan semua padanya. Aku sama sekali tidak pernah membencinya. Ini semua salah paham! Aku percaya … Kyuhyun Oppa bukan pembunuh orang tuaku! Aku percaya itu …”

Seohyun mengalirkan airmatanya. Ia terisak. Hatinya kembali perih. Melihat hal itu, nenek Hye Sung seperti tak kuat menahan airmatanya. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Melihat keadaan Seohyun yang sekarang seperti melihat kembali dirinya yang dulu.

“Joo Hyun … dia sudah pergi …”

“Apa maksud nenek?!”

“Entahlah … tapi dia memutuskan untuk pergi …”

“Anniyo!! Ini salah paham, Nek! Katakan padaku, dimana dia sekarang?!”

“Mianhae … aku tidak tahu dimana Kyuhyun sekarang. Semalam, dia sama sekali tidak berbicara apa-apa. Dia hanya berpesan agar aku menjagamu …”

“Anniyo! Kau bohong! Kau pasti tahu dimana Kyuhyun Oppa!”

“Joo Hyun … mianhae … aku sama sekali tidak tahu.”

“Nenek …”

Seketika tubuh Seohyun melemas. Airmatanya terus mengalir. Sejenak, semua memori-memori indahnya tentang Kyuhyun dan dirinya kembali melintas satu per satu. Namun, tak lama, Seohyun segera menyeka airmata itu dengan telapak tangannya. Tanpa ragu, ia berlari ke luar rumah tanpa mempedulikan nenek Hye Sung yang berusaha mencegahnya. Ia menguatkan dirinya. Berlari sekuat tenaga … seperti apa yang dilakukannya semalam.

***

Musim dingin seperti terus menusukku

Memburu setiap hembus napasku

 

Aku mohon

Kembalilah padaku

Apa kau tahu, sebanyak darah yang mengalir dalam tubuh ini

Aku berani bersumpah … aku akan terus mencintaimu tanpa syarat

 

Aku tak peduli

Dan benar-benar tidak peduli

Apa yang pernah kau lakukan padaku di kehidupan sebelumnya

 

Aku percaya …

Takdir saat ini, hidup bersamamu, itu adalah hadiah dari Tuhan yang terindah

 

Bagiku, itu sudah cukup

Tanpa perlu aku tahu

Apa yang pernah kau lakukan padaku di kehidupan sebelumnya

 

Busan

Seohyun

***

            Sebuah taman kota Busan. Suasana dingin yang masih menyelimuti kota Busan memaksa semua penduduk mengenakan mantel tebal mereka. Bagaikan sebuah parade mantel, mereka beredar memenuhi taman di pusat kota Busan. Dengan kesibukannya masing-masing, para penduduk itu hampir memadati pinggiran jalan yang berada di sekeliling taman.

Seohyun berjalan sedikit tertatih di antara orang-orang yang kini memenuhi taman tersebut. Seiring dengan butiran salju yang terus turun, Seohyun mengamati satu per satu wajah orang-orang di sekitarnya. Ia memperhatikan mereka dengan begitu teliti. Mencari-cari sosok Kyuhyun yang mungkin mendatangi tempat ini.

Wajahnya yang semula pucat, kini bertambah pucat. Bibirnya telah mengering dan beku. Jari jemarinya bahkan hampir sulit digerakkan. Bagaikan sesosok tanpa nyawa, Seohyun tak menghentikan langkahnya. Ia sama sekali tak menyerah. Berharap menemui Kyuhyun di antara ribuan orang yang saat ini memadati pandangannya.

            “Tuan, apa kau pernah melihat seorang namja dengan tinggi 180 cm?? Wajahnya sangat sendu. Ia benar-benar sangat diam dan tak banyak bicara …” tanya Seohyun ketika dirinya berada di dekat seorang namja tua.

“Mianhae Nona … aku tidak pernah melihatnya …” jawab sang namja tua itu sambil berlalu pergi. Hal tersebut membuat Seohyun kecewa. Namun, ia tetap tak menyerah. Ia terus berusaha bertanya kepada orang-orang di sekitarnya.

“Ah, Nyonya … Apa kau pernah melihat seorang namja dengan tinggi 180 cm?? Wajahnya sendu, kulitnya putih pucat, dan rambutnya agak coklat tua. Apa kau pernah melihat namja seperti itu??”

“Sepertinya tidak … Mianhae …”

“Nyonya aku mohon … Kau pasti melihatnya, aku mohon beritahu aku …” mohon Seohyun sambil menitikkan airmatanya dengan frustasi. Ia menahan tangan seorang yeoja yang lebih tua darinya tersebut.

“Mianhae Nona … Tapi aku tidak pernah melihatnya …” ucapnya sedikit iba pada keadaan Seohyun. Perlahan Seohyun melepaskan tangannya dari tangan yeoja itu, kemudian kembali mengeluarkan airmata dengan penuh isak.

“Oppa … aku mohon kembalilah …” lirih Seohyun dengan bibir bergetar.

Seohyun terus berjalan. Menata langkahnya dengan begitu pelan. Matanya tak berhenti mengawasi semua orang-orang yang ia temui.

Dirasakan hembus napasnya mulai terasa berat. Pandangannya pun mulai kabur. Namun, ia tak mempedulikan semua pesakitan itu. Ia tetap melangkahkan kakinya seperti tanpa arah. Ia tak peduli jika dirinya benar-benar harus mengakhiri hidup di tengah jalan seperti ini. Ia hanya berharap, sedetik sebelum dirinya meninggalkan dunia ini, ia diberikan kesempatan untuk melihat kembali sosok Kyuhyun.

Ia ingin meminta maaf. Sebanyak yang bisa ia lakukan.

Ia benar-benar menyesal. Seandainya saat itu, ia tidak pernah mengatakan sesuatu yang membuat Kyuhyun pergi meninggalkan dirinya. Dan juga … seandainya saat itu ia mampu mengerahkan segala kekuatannya untuk mencegah Kyuhyun pergi. Mungkin kisah menyakitkan seperti ini tidak akan pernah dirasakannya.

Semua itu … seperti terjadi begitu saja. Entah Tuhan memang mengaturnya demikian, atau mungkin dirinya yang telah membiarkannya demikian.

Ia membiarkan lidahnya yang kaku … menanyakan sesuatu yang seharusnya tak pernah ia tanyakan pada Kyuhyun. Dan justru bukanlah sebuah jawaban yang ia dapatkan dari namja itu. Hanya permintaan maaf dan ucapan selamat tinggal yang ia dapatkan dari Kyuhyun.

Kini, saat semuanya telah terjadi, Seohyun seperti ingin membenturkan kepalanya pada tebing yang tajam. Ia ingin semua memorinya tentang malam itu … selamanya hilang.

Atau jika ia diperbolehkan meminta sesuatu, Seohyun ingin sebuah mesin waktu yang mengantarnya kembali ke masa-masa indahnya bersama Kyuhyun. Saat dimana dirinya mampu mengulum senyum sempurna, mendapatkan sebuah kehangatan yang selama ini begitu menusuk seluruh tubuhnya.

“Oppa … kembalilah … aku mohon kembalilah …” lirih Seohyun dengan isak tangisnya. Yeoja itu menjatuhkan tubuhnya di antara butiran salju lembut di taman kota Busan. Hatinya benar-benar sesak. Seperti tak ada udara yang mampu memasuki celah di dalam paru-parunya. Ia bahkan tak peduli dengan orang-orang yang kini memperhatikannya dengan penuh iba.

“Nona … gwenchanayo?? Apa kau sakit?” tanya seorang yeoja pada Seohyun. Matanya menatap penuh khawatir ke arah Seohyun. Namun, tak satupun kata yang keluar dari mulut Seohyun.

“Wajahmu benar-benar pucat. Apa kau tersesat? Mungkin aku bisa menolongmu …” ucap yeoja itu kembali. Seohyun sedikit menghapus airmatanya.

“Anniyo … gamsahamnida …” jawab Seohyun dengan suara serak. Tak lama yeoja itu pun meninggalkan Seohyun dengan sedikit keraguan. Sesekali matanya masih memperhatikan Seohyun yang terduduk sendiri di taman. Sementara itu, Seohyun berusaha untuk berdiri kembali. Ia masih tak ingin menyerah. Dalam hati kecilnya, ia masih sangat yakin bahwa Kyuhyun tak akan pernah jauh darinya. Walau ia tak tahu dimana Kyuhyun saat ini, ia tetap yakin bahwa namja itu masih menunggu kedatangannya.

***

“Sial!!” Jin Woon membanting keras semua dokumen-dokumen yang semula berada di tangannya. Napasnya memburu penuh geram. Dan matanya menatap tajam ke salah sudut ruangan. Ia terus berpikir … mengenai semua permainan yang kini menguras otaknya.

“Waeyo?” tanya Donghae begitu menyaksikan kekesalan yang terlihat di wajah Jin Woon.

“Cho Sang Hyun benar-benar ingin membuatku gila! Apa yang harus aku lakukan lagi?! Bahkan menangkap Kyuhyun saja aku seperti tidak mampu. Kalau begini, percuma saja aku mengorbankan Seohyun …’ desis Jin Woon setengah sadar. Sontak hal tersebut membuat Donghae penuh tanda tanya.

“Apa maksud perkataanmu?! Mengorbankan Seohyun??” tanya Donghae penuh curiga.

“Ah, aniyo! Aku rasa… aku salah bicara …” jawab Jin Woon gugup. Ia berusaha mengaburkan semua kecurigaan Donghae padanya. Namun, hal itu justru semakin membuat Donghae penasaran.

“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?!” tekan Donghae sambil menghampiri Jin Woon. Ia menatap tajam kedua mata Jin Woon yang kini berusaha menghidari tatapannya.

“Hyung … aku … aku hanya salah bicara …”

“Kau bilang, kau mengorbankan Seohyun? Apa maksud perkataan itu?”

“Anniyo! Aku rasa … kau salah dengar …”

“Apa aku perlu mencari tahu semua itu sendiri? Jika demikian, aku tidak yakin kau masih berada di sini Jin Woon-ssi …”

Jin Woon menghela napas tak tenang. Ia kesal pada dirinya sendiri yang ceroboh.

“NE .. ne .. baiklah … Sebenarnya, aku hanya membohongi kalian mengenai pembunuh orang tua Seohyun. Tapi percayalah, aku tidak sepenuhnya berbohong. Ini semua aku lakukan untuk mempermudah pencarianku terhadap Kyuhyun.”

“Apa kau bilang?! Kau membohongi aku dan Jessica tentang kematian orang tua Seohyun?!”

“Hyung … mianhae … Tapi aku tidak punya cara lain lagi. Sebenarnya, kematian orang tua Seohyun memanglah sebuah kecelakaan. Hanya saja, kecelakaan itu berlangsung pada saat yang bersamaan dengan peristiwa pembunuhan salah satu target incaran Cho Sang Hyun. Saat itu, mobil orang tua Seohyun beriringan dengan target. Dan kecelakaan pun terjadi secara beruntun. Jadi, aku sengaja berbohong pada kalian. Tentu saja, agar kalian segera menghubungi Seohyun lalu menemukan yeoja itu. Kupikir, Kyuhyun bersama dengannya, tapi ternyata namja itu justru lebih dulu pergi dari yang kuduga …”

“Kau … Aku tidak percaya jika kau melakukan semua ini! Kau tahu, karena semua kebohongan yang kau rekayasa, hidup Seohyun semakin tak jelas! Kau membuat hidupnya benar-benar terluka! Bahkan sekarang … entah yeoja itu ada dimana!”

“NE … NE … hyung, aku tahu itu. Tapi, ini semua aku lakukan demi kebaikan Seohyun juga. Dia harus sadar bahwa namja yang selama ini dicintainya adalah seorang pembunuh …”

“Apapun alasanmu, aku tetap tidak habis pikir! Kau tahu, rasanya pasti sangat sakit bagi Seohyun ketika tahu bahwa suaminya adalah pembunuh orang tuanya sendiri. Apa kau tidak lihat, hidupnya sudah sangat hancur! Dan kau … ternyata kau yang merekayasa semua itu!”

“Hyung, tapi …”

“Secepatnya aku akan mengabari hal ini pada Jessica. Dan kau … aku menyesal karena telah menjadi pendengar yang baik pada semua kebohonganmu!”

Seketika itu juga Donghae segera pergi. Melihat hal tersebut, Jin Woon semakin kesal. Pikirannya semakin kacau.

***

Senja ke lima

Sejak aku memutuskan untuk tidak bercahaya

Dan kau … benar-benar tak ada

Kau seolah terbang ke angkasa

Dan membiarkan aku putus asa

 

Apakah ini … yang benar-benar kau inginkan?

 

Kau tahu

Musim dingin hampir berlalu

Namun tubuh dan nadiku seolah terus membeku

 

Aku mohon

Jangan berlabuh semakin jauh

 

Tidakkah kau ingat tentang musim semi yang pernah kau janjikan padaku?

Kembalilah …

Bawa aku pada musim semi itu

Kembalilah …

Bawa aku pada kehidupanmu yang baru

 

 

Busan

Seohyun

 

Serabut awan putih membentang luas hingga ke cakrawala di angkasa. Berpadu dengan biru yang menyejukkan mata. Sedikit polesan kelabu juga mempercantik langit siang hari ini. Lantas, beranjak dari pemandangan angkasa, sejenak pula perhatikan bayang-bayang gelap pepohonan di sisi kiri dan kanan pada ruas-ruas jalanan. Terjajar rapi hingga ribuan kilometer. Tak lama angin pun ikut menggoda pepohonan tersebut hingga nampak bergoyang-goyang mengikuti semilirnya yang tenang. Sungguh, fatamorgana yang tak pernah Seohyun lihat sepanjang musim dingin di kota Busan.

            Sebuah kamar dengan penerangan cahaya matahari yang tak begitu terang, tampak Seohyun duduk terpaku pada sebuah kursi yang menghadap ke jendela. Ini hari kelima semenjak dirinya tak lagi mencari keberadaan Kyuhyun. Ia seperti sudah menyerah. Membiarkan semuanya terjawab sesuai garis takdir yang telah ditentukan Tuhan padanya.

Airmata pun sudah mengering. Menyisakan sisa-sisa kepedihan di sudut mata dan hatinya. Kulit putih yang semakin memucat, bentuk tubuh yang semakin tak terurus, membuat Seohyun seperti tak lagi mengenal kehidupan. Hanya sinar matahari ketika fajar, senja, dan cahaya bulan yang ia sadari sebagai kehidupan. Sisanya … mungkin hanya seperti siluet-siluet yang tak pernah nyata bagi dirinya.

Bahkan ketika nenek Hye Sung terus berusaha mengajaknya berbicara, Seohyun sama sekali tak mengubah sudut bibirnya. Yeoja itu tetap diam, membisu, dan hanya pandangan kosong tanpa nyawa yang menyelimuti dirinya.

Berulang kali nenek Hye Sung menghibur sosok yang kini hampir tak bernyawa itu. Namun, semua usahanya seolah sia-sia. Justru yeoja tua itu tak kuasa menahan tangis seolah sangat mengerti kepedihan apa yang dirasakan oleh Seohyun.

“Apa yang kau lakukan di sini?!! Pergilah!!” teriak nenek Hye Sung tiba-tiba, memecah kesunyian di kamar Seohyun. Yeoja itu sedikit terperangah dengan teriakan dari nenek Hye Sung yang berada di luar kamarnya. Namun, ia masih enggan melangkahkan kakinya untuk memastikan semua itu.

“Aku ingin bertemu dengan yeoja itu!” balas seorang namja dengan suara yang lebih rendah dari nenek Hye Sung.

“Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan kau bertemu dengannya! Aku akan melindungi dia!” bentak nenek Hye Sung dengan begitu lantang. Mendengar hal itu, Seohyun mengerutkan kening. Ia terpengaruh dengan semua ucapan-ucapan tersebut. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi di luar kamarnya.

Perlahan, Seohyun melangkahkan kakinya. Ia berusaha menguatkan diri. Sejujurnya ia benar-benar tak kuat lagi menghadapi apapun di hadapannya. Bahkan, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk tetap dapat bernapas dengan tenang. Pikirannya benar-benar kacau. Dan ia hampir tak kuasa menahan semua kerapuhan itu.

“Nenek …” lirih Seohyun begitu dirinya membuka pintu. Ia menyaksikan nenek Hye Sung berada di antara orang-orang yang pernah dilihatnya di arena permainan ski. Ya, orang-orang itu. Orang-orang yang justru menjadi tantangan terbesar bagi Seohyun untuk melindungi Kyuhyun, suaminya.

Sesaat, Seohyun menatap beku ke arah seorang namja yang mungkin seumur dengan ayahnya. Namja itu pun membalas tatapan Seohyun dengan penuh kepuasan. Seringai senyumnya seolah menandakan bahwa ia telah berhasil menangkap buruan terbesarnya.

“Nona Seo Joo Hyun … senang bertemu denganmu …” ucapnya sambil menghampiri Seohyun dan mencoba untuk mengulurkan tangan. Hal tersebut tidak dihiraukan oleh Seohyun. Yeoja itu hanya menatap kaku seorang namja di hadapannya saat ini.

“Ahahahahaha … apakah aku benar-benar harus bertemu dengan mayat hidup seperti ini?” ujar namja itu dengan suara menggelegar. Sekali lagi Seohyun hanya diam. Ia tak mengubah tatapannya sedikit pun. Sejujurnya ia masih tak mengerti apa maksud kedatangan semua orang-orang yang berada di sekitarnya sekarang. Yang jelas, ia sangat mengerti bahwa semua ini pastilah berhubungan dengan Kyuhyun.

“Well, aku tidak akan berlama-lama lagi. Aku hanya ingin kau melakukan sesuatu untukku … Tentu saja agar semuanya menjadi lebih mudah untuk bertemu dengan harta berhargaku yang selama ini hilang …”

“Aku tidak mengerti maksudmu …”

“Kau tahu, kemampuan Kyuhyun benar-benar kubutuhkan saat ini. Tapi sepertinya, anak tidak tahu terima kasih itu berusaha mempermainkan aku. Aku yakin, dia pasti tidak pernah jauh darimu. Dan … dengan membawamu pergi, semua itu akan lebih mudah mendapatkannya …”

“Benar-benar manusia rendah! Kau tahu, bahkan jika kau membunuhku, Kyuhyun tidak akan peduli lagi! Percuma kau membawaku pergi … karena dia tidak akan pernah melakukan apapun lagi untukku!”

“Ahahahaha … Kau pikir, kau ini sedang berbicara dengan siapa?! Aku yang telah membesarkan Kyuhyun dan aku tahu benar bagaimana sifatnya.”

“Kau salah! Kau justru tidak pernah tahu apa-apa tentangnya!”

“Kau …” desis Cho Sang Hyun seraya melayangkan telapak tangannya ke wajah Seohyun.

“Jika kau berani menyentuh istriku sedikitpun, kau akan mati detik ini juga!” bentak seseorang dari balik pintu depan. Seketika itu juga, senyum puas menyeringai di wajah Cho Sang Hyun. Ia sangat hapal pemilik suara di balik tubuhnya itu.

“Kau lihat, bahkan sebelum aku membawamu pergi … dia telah menyerahkan dirinya padaku …” ucap Cho Sang Hyun penuh kemenangan pada Seohyun.

Sesaat, Seohyun mengalirkan airmatanya kembali. Airmata yang semula telah mengering, entah mengapa dengan mudah mengalir begitu matanya mendapati dengan jelas wajah dingin seseorang yang begitu ia rindukan sosoknya.

Sosok yang selama ini menghilang dari hadapannya, justru kembali di saat yang tidak seharusnya. Seohyun memandang beku ke arah Kyuhyun. Ditatapnya namja itu tampak mengarahkan sebuah mulut pistol tepat ke arah Cho Sang Hyun.

Tatapan mata namja itu begitu tajam. Sebuah tatapan mata yang tak pernah dilihat Seohyun sebelumnya. Ia bahkan hampir tak mengira jika sosok itu adalah Kyuhyun. Sosok yang selama ini begitu hangat dan lembut di hadapannya, kini seperti seekor serigala yang akan mengoyak-ngoyak isi perut mangsanya.

“Cho Kyu Hyun … selamat berkumpul kembali dengan semua saudara-saudaramu …” sahut Cho Sang Hyun dengan tawa yang menggelegar.

“Dengar, jangan pernah libatkan mereka! Atau aku akan melesatkan peluru ini tepat ke saraf motorikmu!”

“Haha … kau berani menantangku?! Apa kau tidak sadar siapa dirimu?!”

“Aku tidak main-main dengan ucapanku!”

Kedua bola mata Kyuhyun semakin memburu. Ia menatap laknat sosok namja tua di hadapannya itu. Sementara Seohyun, waktu seolah berhenti baginya. Pertemuannya dengan Kyuhyun kali ini, entah mengapa, ia bahkan tak bisa melangkahkan kakinya. Sejujurnya, ia ingin sekali memeluk namja itu. Namun, tatapan mata Kyuhyun yang begitu tajam, seolah mengisyaratkan bahwa dirinya harus benar-benar jauh dari sosok tersebut.

“Baiklah … ikuti permainanku atau yeoja ini tidak akan pernah hidup tenang …” ancam Cho Sang Hyun tak kalah takut. Ia membalas tatapan Kyuhyun dengan kilatan matanya yang begitu tajam. Ia ingin tahu seberapa besar nyali Kyuhyun mempertahankan orang-orang yang disayanginya. Tentu saja, namja itu tak akan berpikir panjang untuk segera mengikuti ucapannya. Walau bagaimanapun, Kyuhyun hanya sendiri. Dan ia tahu benar dirinya sedang berhadapan dengan siapa.

“Aku akan ikuti permainanmu! Sebagai imbalan, aku ingin satu permintaan …”

“Kau tahu bukan, aku tidak pernah suka sebuah permintaan …”

“Tak peduli jika kau sama sekali tidak menyetujuinya. Aku hanya ingin satu hari sebelum akhirnya kembali padamu …”

Cho Sang Hyun menyeringai senyum. Ia menatap sekilas ke wajah Seohyun. Ditatapnya sosok itu hampir seperti boneka hidup yang tanpa nyawa.

“Baiklah … aku akan berikan kau waktu untuk mengurus mayat hidupmu ini …” ucap Cho Sang Hyun sambil berlalu pergi.

***

Kyuhyun menatap dingin kedua bola mata Seohyun. Kali ini sikapnya benar-benar berubah seperti tidak diharapkan oleh Seohyun. Bahkan sebuah senyum hangat yang begitu dirindukan oleh Seohyun, tidak mengembang sedikit pun dari bibir namja itu.

“Kesepakatan itu … Apa kau tidak memahaminya juga?” ucap Kyuhyun kaku. Ia berusaha menahan perasaannya. Walau Seohyun kembali mengalirkan airmata, ia tidak ingin menghapus airmata itu lagi. Bagaimanapun caranya, ia harus meninggalkan Seohyun malam ini juga.

“Oppa … aku benar-benar merindukanmu …” ujar Seohyun berusaha menenangkan perasaan Kyuhyun. Diraihnya salah satu tangan Kyuhyun dan ia pun berusaha menghangatkan tangan dingin suaminya tersebut.

“Dengar, saat ini … yang aku butuhkan bukan lagi kehangatan darimu. Aku hanya ingin … kau melupakan aku!”

Sebening kristal kembali jatuh membasahi pipi Seohyun. Hatinya benar-benar sesak ketika mendengar semua ucapan Kyuhyun padanya. Lama sekali Seohyun menantikan saat dimana dirinya dapat bertemu kembali dengan namja itu, namun semua yang ia dapatkan seolah hanya kerapuhan yang semakin dalam.

“Oppa … aku mohon jangan tinggalkan aku. Percayalah, aku akan tetap menunggumu. Semua hanya butuh waktu …” ucap Seohyun masih mencoba untuk meyakinkan Kyuhyun.

“Apa kau masih tidak sadar, aku adalah pembunuh kedua orang tuamu! Bagaimana mungkin kau masih mengharapkan aku! Aku bahkan begitu membenci diriku! Bagaimana mungkin kau masih membuka hatimu untukku?!”

“Oppa … ”

Airmata Seohyun semakin mengalir deras. Ditatapnya wajah Kyuhyun yang benar-benar penuh amarah. Ini pertama kalinya Seohyun menyaksikan Kyuhyun seperti itu.

“Dengar, Seo Joo Hyun … aku adalah pembunuh! Kau seharusnya membenci aku!! Kau bahkan seharusnya membunuh aku!! Kau harus sadar itu, suamimu adalah seorang pembunuh!!” teriak Kyuhyun sambil mengguncang-guncangkan tubuh Seohyun yang begitu lemah. Namja itu tak peduli pada Seohyun yang terus mengalirkan airmata.

“Anniyo!! Kau bukan pembunuh orang tuaku! Mereka meninggal karena kecelakaan! Aku mohon … hentikan semua ini!” balas Seohyun tak kalah kencang. Isak tangisnya semakin menderu.

“Kau lihat … tangan ini. Tangan ini adalah tangan yang telah merenggut nyawa kedua orang tuamu! Tangan ini …aku bahkan tidak ingin memilikinya sama sekali!!!”

“Anniyo! Hentikan Oppa! Aku mohon hentikan … ” Seohyun menutup kedua telinganya. Ia semakin frustasi melihat Kyuhyun terus menekannya. Perlahan,ia menjatuhkan tubuhnya di lantai. Terduduk dengan isak tangis yang tak berhenti mengalir. Sementara itu, Kyuhyun berusaha sekuat tenaga untuk tidak merengkuh tubuh Seohyun. Sejujurnya ia benar-benar tidak sanggup melihat yeoja itu semakin rapuh. Ingin sekali ia menghapus airmata itu dan membawa Seohyun ke dalam pelukannya.

“Baiklah … Jika kau memang ingin pergi … pergilah. Tapi aku mohon, kirimkan aku satu pot bunga krisan sebagai permintaanku padamu. Dan juga … sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu di sini, sampai kau benar-benar kembali …” ucap Seohyun dengan bibir bergetar.

Kyuhyun hanya diam. Ia membalikkan tubuhnya, membelakangi Seohyun. Sedetik kemudian ia melangkahkan kakinya pelan dan menghilang dari hadapan Seohyun. Seiring dengan itu, sebening kristal mengalir lembut di wajah Kyuhyun. Namja itu tak sanggup lagi menahan perih.

Ya, malam ini … terlalu banyak luka di dalam hatinya.

***

Kyuhyun berjalan dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal kuat, sementara tatapan matanya begitu tajam menusuk. Di hadapannya, kini seorang namja tengah menanti-nanti kehadirannya dengan perasaan yang begitu menggebu. Namja itu tersenyum puas sambil sesekali menyesap cerutu di mulutnya.

“Apa kau puas?! Setelah kau menghancurkan hidupku, sekarang kau bahkan menghancurkan kehidupan orang yang kucintai!!!” teriak Kyuhyun dengan sekuat tenaga. Seketika itu juga kedua bola matanya bergetar. Wajahnya terlihat sangat frustasi dan deru napasnya tak menentu.

“Kau ini … apa kau memang benar-benar bodoh?? Sejak awal, bukankah aku sudah bilang, kehidupan orang-orang seperti kita tidak akan pernah dekat dengan sebuah kebahagiaan.”

“Persetan dengan semua ucapanmu! Kau yang telah merenggut semuanya dariku!!!”

“Hentikan Cho Kyu Hyun!!!”

Sebuah pistol menghadap lurus ke wajah Kyuhyun. Ia menatap tajam mulut pistol itu.

“Kenapa?! Kau ingin membunuhku? Kenapa tidak kau lakukan saja?!! Kau tahu, lebih baik aku mati daripada kembali pada kehidupan ini!!!”

“Diam kau!!!”

Dengan tangan gemetar, Cho Sang Hyun terus mengendalikan emosi di dalam dirinya. Perlahan, ia menjauhkan pistol itu dari wajah Kyuhyun. Berusaha menghela napas panjang.

“Dengar, ini target kita selanjutnya … Aku yakin kau tidak asing lagi dengannya. Itu sebabnya aku mencarimu …Dan ingat, aku tidak main-main dengan ucapanku. Jika kau tidak menuruti keinginanku, aku pastikan yeoja itu akan bermasalah … ” ucap Cho Sang Hyun sambil melemparkan sebuah foto ke atas meja kerjanya. Tak lama, ia pun meninggalkan Kyuhyun sendiri. Membiarkan namja frustasi itu berpikir sejenak mengenai apa yang diharapkannya.

Sekilas, Kyuhyun menatap foto tersebut. Hatinya mendadak rapuh. Ia tak tahu harus berbuat apa.

TBC

Jgn lupa komen or like ya

***

8 Responses to “[FF] Elegy (Chapter 10)”

  1. sasa 24 November 2012 at 1:23 pm #

    Bagian seokyu harus pisahnya sedih banget😥 Seokyu samasama tersiksa batinnya, ditunggu lanjutannya

  2. sharfina 24 November 2012 at 7:30 pm #

    Sm seperti part 9. Nyessek!! Huaa. .!! Seokyu jgn berpisah. . Tu ya jinwoon. .gr2 dia seokyu jd berpisah. . Cho sang hyun jg, jht bgt sih jd orang. .
    Tu orang yg ada di.foto tu sapa ya. . tiba2 hatinya kyuhyun jd rapuh. . Ya ampun eon. .cepet share yg part 11. . Gak sabar nih kelanjutannya. . Next part jgn yg nyesek lg dong. . Hawiting!! 🙂

  3. mizukaraeki11 28 November 2012 at 7:26 pm #

    Seokyu pasti bersatu !

  4. sugenship 2 December 2012 at 9:23 am #

    Waa keren banget chingu! Di tunggu ya lanjutannya

  5. nita 7 December 2012 at 11:09 pm #

    Thor bsa gx nnti pas kyu mau ktmbak mlah seo yv gx sngja ktmbak n dia kma trus kyu nysel n sdih bgt d tnggal ma seoni
    lnjutkan ya eoni plisss ku tnggu !

  6. wikhamutia 22 December 2012 at 4:08 am #

    hwaaaaaa cerita nya makin sedih. part selanjutnya post nya di cepatin ya thor.

  7. Momo_uzurinkokua 6 January 2013 at 8:02 am #

    Seokyu ayo brstu lge..

  8. Gyuuuu13 29 May 2015 at 1:58 am #

    cerita nya keren kaaaa kenapa gak di share di mcls ajaaa banyak yang suka deh pasti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: