[FF] Elegy (Chapter 9)

31 Oct

 

 

 

Judul FF                    : ELEGY (Part 9)

 

Nama Author         : Similikiti_balabala

Main Cast                  :

Cho Kyu Hyun (SJ) as Cho Kyu Hyun  

Seo Joo Hyun (SNSD) as Seo Joo Hyun

Jung Jin Woon (2AM) as Jung Jin Woon

 

Lee Donghae (SJ) as Lee Donghae

Jung Soo Yeon /Jessica Jung (SNSD) as Jessica Lee

 

Shim Chang Min (DBSK) as Cho Chang Min

Kim Jong Hyun (SHINee) as Cho Jong Hyun

Choi Min Ho (SHINee) as Cho Min Ho

Jung Soo Jung/Krystal Jung(f(x)) as Krystal Cho

 

Jung Eun Chan as Owner Jung Advertising / Jin Woon’s grandpa (Fictional)

Cho Sang Hyun as Leader of Cho’s Gangster (Fictional)

 

Genre                          : Romance,  Sad

 

Type                           : Chapter

 

 

 

 

 

 

 DONT COPASTE!!

DONT BASHING!!

DONT PLAGIAT!!

DONT FORGET TO RCL!!

 

 

 

 

Annyeong … Balik lagi dgn chapter 9. Di chapter 9 ini agak nyesek. Jd mohon jgn bashing ya. 

Oh iya, mian kalo ngerasa cuma sedikit. Author ga mau nulis alur yang terlalu banyak dan terburu2. TAkut ga dpt feelnya. GAmsahamnida atas pengertiannya🙂

 

 

Previous chapter

“Cho Kyu Hyun … apakah kau bersedia … menerima Seo Joo Hyun sebagai istrimu, menerima segala kelebihan dan kekurangannya, menjalani hidup bersama dengannya dalam keadaan suka maupun duka, menghormati setiap keputusannya, dan juga menjaga dirinya hingga takdir kematian memisahkan kalian berdua …”

“Ne, aku bersedia …”

“Seo Joo Hyun … apakah kau juga bersedia … menerima Cho Kyu Hyun sebagai suamimu, menerima segala kelebihan dan kekurangannya, menjalani hidup bersama dengannya dalam keadaan  suka maupun duka, menghormati setiap keputusannya, dan juga menjaga dirinya hingga takdir kematian memisahkan kalian berdua …”

“Ne, aku bersedia …”

“Baiklah … dengan ini aku menyatakan … bahwa kalian resmi menjadi pasangan suami-istri …”

Kyuhyun dan Seohyun tersenyum bersama. Kyuhyun menatap Seohyun dengan penuh kelembutan. Ia melihat kedua bola mata Seohyun tampak berkaca-kaca. Seiring dengan itu, paduan suara gereja pun mengiringi sebuah lagu yang begitu menenangkan jiwa mereka.

Kyuhyun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku mantelnya. Ia membuka kotak kecil itu, kemudian mengambil sebuah cincin di dalamnya. Perlahan, ia meraih tangan Seohyun dan melingkarkan cincin itu tepat di jari manis Seohyun.  Ia tersenyum lembut pada yeoja di hadapannya itu. Begitu juga dengan Seohyun. Seiring dengan hal tersebut, Kyuhyun pun mengecup lembut bibir Seohyun.

Bersama musim dingin yang masih berlabuh …

 

 

Pada sebuah gereja tua … tepat di kaki bukit Busan, Kyuhyun dan Seohyun resmi mengucapkan janji mereka.

***

 

Elegy Chapter 9 

 

Author’s pov

Senja memerah. Semburat cahaya merahnya begitu indah di angkasa kota Busan. Sebuah bukit kecil yang begitu indah, tepat di bawah kaki gunung Busan, tampak Seohyun dan Kyuhyun duduk bersama sambil menikmati siluet senja yang memancar penuh rona. Seolah siluet senja itu menggambarkan tentang perasaan mereka saat ini. Perasaan yang tak pernah dapat mereka ungkapkan kepada siapapun. Ya, karena hanya mereka yang mampu merasakan semua itu.

Sebuah perasaan cinta … namun seperti ada setitik luka yang masih menjera di dalamnya.

Mereka bahagia, namun mereka mengalirkan airmata bersama.

Seharusnya airmata itu tak lagi mengalir dari kedua mata mereka, namun entah mengapa … mereka dengan mudah mengalirkannya begitu saja.

Hati mereka begitu sesak. Seperti ada perkara lain yang seolah memenjarakan kelabu perasaan mereka. Walau akhirnya mereka diberikan kesempatan untuk bersama, pikiran mengenai sebuah perpisahan yang akan menyakitkan, seolah tak pernah dapat hilang dari memori mereka saat ini.

Butiran salju yang masih setia turun, seolah menambah kebekuan hati mereka masing-masing. Mereka hanya terbuai pada kebahagiaan yang begitu perih.

“Oppa …” lirih Seohyun dengan nada suara yang bergetar. Ia menatap dalam kedua bola mata Kyuhyun. Dirasakannya jari-jari namja itu menelusuri setiap lekuk wajahnya. Bukan hanya itu, ia juga terbuai pada setiap kecupan bibir Kyuhyun yang terus berkulum di seluruh wajahnya. Entah apa yang dilakukan namja itu padanya, bagi Seohyun hal ini seperti begitu miris. Namja itu seolah frustasi. Untuk kesekian kalinya ia merasakan Kyuhyun menyentuh dirinya dengan segala kecupan frustasi.

Perlahan, Seohyun mendorong tubuh Kyuhyun yang hampir menguasainya. Ia ingin sekali melihat jelas wajah Kyuhyun. Memastikan bahwa namja itu baik-baik saja. Namun, seolah tak ingin yeoja itu melihat wajahnya, Kyuhyun terus memburu Seohyun dengan kecupan-kecupan hangatnya. Begitu lembut. Begitu membuai pikiran Seohyun. Hal itu semakin membuat Seohyun tak berdaya. Ia terpaksa membiarkan Kyuhyun melakukan hal tersebut. Mungkin … saat ini namja itu sedang tak ingin berkomentar apapun.

Menit terus berlalu. Deru napas Kyuhyun dan Seohyun semakin tak menentu. Detak jantung mereka pun semakin terpacu. Sesaat, Kyuhyun melepaskan lumatan bibirnya pada Seohyun. Ia berusaha mengatur napas. Merasakan kehangatan hembus napas Seohyun yang menerpa lembut wajahnya. Sesekali bibirnya tersenyum hangat. Menikmati segala pesona yang dipancarkan oleh Seohyun kepadanya.

Hingga detik ini, Kyuhyun masih tak percaya jika yeoja itu telah resmi menjadi istrinya. Seorang istri yang seharusnya ia cintai. Seorang istri yang seharusnya selalu dapat ia bahagiakan. Namun, semua itu seolah berbeda dari apa yang ia rasakan. Ia sama sekali tak merasa pantas mencintai yeoja itu. Ia bahkan sama sekali tak mampu membuat Seohyun bahagia.

“Oppa, gwenchanayo?” tanya Seohyun penuh khawatir. Ia membelai lembut wajah Kyuhyun.

“Kau lihat senja itu …”

“Ne …”

“Aku tak tahu apakah senja itu akan tetap merona indah ketika kita berpisah nanti …”

“Oppa … kita tidak akan berpisah. Percayalah … aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi ….”

“Seohyun …”

Kyuhyun meraih kedua tangan Seohyun yang semula membelai lembut wajahnya. Ia menggenggam kedua tangan itu, lalu mencium punggung tangan Seohyun dengan begitu lembut.

“Gamsahamnida … Tanpa kau, aku mungkin tak punya alasan untuk tetap hidup …”

“Oppa …”

Kedua bola mata Seohyun kembali berkaca-kaca. Airmata yang semula telah mengering, seolah kembali meronta ingin keluar. Namun, Seohyun berusaha untuk tidak mengeluarkan airmata itu. Ia tidak ingin membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah karena airmata itu.

Seohyun pun tersenyum lembut. Ia mendekatkan wajahnya tepat di wajah Kyuhyun, menyejajarkan hidungnya dengan hidung namja itu. Sedetik kemudian, mereka memejamkan mata bersama.

***

“Rumah baru kita …” bisik Kyuhyun lembut tepat di telinga Seohyun. Namja itu melepaskan lingkar tangannya pada pinggang Seohyun. Kemudian berjalan perlahan menuju sebuah jendela kamar yang tertutup oleh tirai berwarna putih gading. Ia membuka tirai itu penuh. Seketika itu juga, siluet cahaya bulan yang begitu benderang memancar masuk ke dalam ruangan.

Kyuhyun membalikkan tubuhnya, menatap Seohyun dalam dan ia mendapati yeoja itu tersenyum hangat padanya.

“Kamar ini … tidak terlalu buruk untuk malam pertama kita, bukan?” tanya Kyuhyun setengah menggoda. Mendengar hal itu, Seohyun semakin mengembangkan senyumnya. Ia merasa tenang karena Kyuhyun kembali pada sosok yang benar-benar ia nantikan. Tentu saja, sosok yang hangat dan seringkali menggoda dirinya.

“Jadi … kau sudah mempersiapkan apa untuk malam pertama kita?”

Giliran Seohyun yang balas menggoda. Yeoja itu menahan senyum kecilnya. Namun, hal itu tampak jelas bagi Kyuhyun bahwa Seohyun memang sedang menggodanya.

“Katakan saja padaku … Musik? Candle light dinner? Atau … wine?”

“Anni! Lebih tepatnya tempat tidur ukuran besar, selimut tebal, dan … lampu tidur dengan cahaya seperti lilin …”

Kyuhyun hanya tersenyum kecil. Ia menghampiri Seohyun dengan tatapan nakal. Tak lama, tangannya meraih tangan Seohyun dan menggenggamnya dengan erat.

“Ikut denganku, my sweetheart …” lirih Kyuhyun tepat di telinga kanan Seohyun. Hal itu membuat Seohyun bergidik. Ia merasakan detak jantungnya tiba-tiba berpacu cepat.

Perlahan, Seohyun terus mengikuti langkah kaki Kyuhyun, memasuki ruangan lain di dalam rumah kecil barunya yang sangat sederhana. Sedetik kemudian, Kyuhyun menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah pintu. Ia membuka pintu itu dengan hati-hati dan menyalakan sebuah lampu.

Seiring dengan itu, Seohyun menatap haru ke dalam ruangan. Ia melihat sebuah ranjang tidur yang tertutupi oleh tirai sutra tipis berwarna putih. Bukan hanya itu, ia juga menyaksikan banyak bunga krisan putih bertebaran di seluruh lantai ruangan yang terbuat dari kayu. Bunga-bunga itu begitu cantik. Seperti sebuah taman surga yang selama ini ada di dalam mimpinya. Beranjak ke dinding-dinding ruangan, Seohyun melihat beberapa lukisan terpajang manis di sana. Sebuah lukisan senja merah, sebuah lukisan seorang yeoja berambut panjang yang menatap ke arah senja, sebuah lukisan bukit kecil yang diselimuti oleh salju tebal, dan juga sebuah lukisan yang menggambarkan sepasang kekasih tampak menyaksikan bunga-bunga bersemi indah.

Belum selesai Seohyun terhanyut pada lukisan-lukisan di dalam ruangan itu, Kyuhyun memeluk erat tubuhnya dari belakang. Namja itu mengecup lembut pipi kanan Seohyun.

“Kau lihat empat lukisan itu … Keempatnya mengambarkan kisah kita.”

“Apa kau yang melukis semua itu?”

“Ne, semalaman aku mempersiapkan semua ini. Aku hanya ingin … saat kau benar-benar telah resmi menjadi istriku, kau mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya memang kau dapatkan dariku.”

Seohyun diam sejenak. Tangannya terulur lembut menyentuh jemari Kyuhyun yang kini berada di lingkar pinggangnya. Ia tersenyum tipis. Menerawang jauh ke salah satu lukisan di depannya.

“Oppa … bagiku, kau berada di sini dan memelukku seperti ini … itu sudah sangat cukup menjadi kebahagiaanku. Percayalah, aku benar-benar bahagia …”

“Seohyun … kau lihat lukisan pertama itu. Senja saat kita pertama kali bertemu. Kau merengkuh tubuhku yang tak berdaya. Kau benar-benar menjagaku …”

“Lalu … lukisan di sampingnya … yeoja itu adalah dirimu yang memiliki cahaya seperti senja. Dan tentu saja, cahayamu selalu menghangatkan aku …”

Seohyun tersenyum penuh haru. Ia hampir menjatuhkan airmatanya. Namun, sebisa mungkin ia menahan airmata itu.

“Selanjutnya … bukit kecil yang dipenuhi salju … itu adalah tempat dimana kita mengucapkan sebuah janji … dan di bukit itulah kita resmi menjadi sepasang suami istri yang bahagia …”

“Lantas, yang terakhir?” tanya Seohyun sedikit memotong kata-kata Kyuhyun. Yeoja itu tak sabar mendengar cerita di balik lukisan terakhir yang nampaknya tak pernah menjadi kisah cintanya bersama Kyuhyun.

“Terakhir … itu adalah harapanku. Saat musim semi tiba,  aku ingin mengajakmu melihat bunga-bunga itu bersemi. Tapi, aku tidak tahu … apakah itu hanya akan menjadi sebuah elegi … atau kenyataan manis yang akan aku berikan padamu …”

Mendengar apa yang diucapkan oleh Kyuhyun, dengan cepat Seohyun membalikkan tubuh. Ia menatap wajah Kyuhyun yang begitu sendu. Perlahan, ia memegang lembut wajah sendu itu.

“Aku mohon jangan menangis … Kau berjanji tidak akan menangis, bukan?” ucap Kyuhyun begitu menyadari Seohyun seperti akan mengeluarkan airmatanya.

Seohyun tak menjawab. Hatinya benar-benar bergetar. Sudut matanya pun begitu perih.

“Oppa … kita pasti akan melihat musim semi itu bersama …” ujar Seohyun sambil memeluk Kyuhyun erat.

Kyuhyun memejamkan mata. Tangannya membelai lembut rambut Seohyun yang terurai panjang. Perlahan, ia merasakan kehangatan tubuh Seohyun menjalar halus melewati tubuhnya. Entah mengapa kehangatan itu justru melemahkan hatinya. Ia begitu tak kuat. Ingin sekali setitik airmata jatuh membasahi pipinya.

Sekeras mungkin Kyuhyun menahan airmata itu.

Dan ia pun tak kuasa.

***

Drama adalah kehidupan nyata yang telah terbuang seluruh bagian buruknya

Dan aku berharap …

Suatu saat nanti …

Aku akan dapat merasakan drama apapun yang mengisahkan akhir bahagia

Seperti kisah Cinderella dengan pangeran yang menemukan sepatu kacanya

Ataupun dongeng-dongeng klasik lain yang selalu berakhir dengan senyum dari surga

 

(Musim dingin setelah natal, dan aku telah menikah dengannya)

 

Busan

-Seohyun-

           

Seohyun merasakan sebuah tangan melingkar lembut di pinggangnya. Segera saja ia menutup diary dan meletakkan pulpen bertinta hitam di atas diarynya tersebut. Tak lama, sebuah hembusan napas menyusul, menerpa dingin pipinya. Yeoja itu tersenyum ketika menyadari sang suami tengah memeluk erat tubuhnya dari belakang.

Sekilas, Seohyun menghadapkan pandangannya pada sebuah siluet fajar di luar jendela. Siluet itu memancar jelas, seolah mengintip malu-malu sepasang suami istri yang masih terduduk bersama di ranjang tidur.

Seohyun dan Kyuhyun tersenyum bersama. Mereka sama-sama membiarkan kehangatan sang fajar menelusuri seluruh tubuh mereka. Dengan begitu, mereka tak perlu bersusah payah mengenakan mantel tebal untuk melindungi diri mereka dari hawa dingin yang begitu menusuk.

“Gamsahamnida untuk semalam …” bisik Kyuhyun pelan tepat di telinga Seohyun. Ia mengecup lembut pipi Seohyun. Seiring dengan hal tersebut, Seohyun pun tersenyum kecil. Jemarinya mengusap lembut tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya.

“Oppa …”

“Ne …”

“Apa aku masih boleh meminta satu permintaan?”

Kyuhyun mendadak diam. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari pinggang Seohyun, kemudian berusaha mencermati tatapan istrinya tersebut.

“Jika aku hamil, apakah kesepakatan itu akan tetap berlaku?” tanya Seohyun dengan nada bicara yang begitu tenang. Sebisa mungkin Seohyun menenangkan dirinya. Ia tidak ingin membuat Kyuhyun merasa tertekan sedikitpun.

“Aku …”

“Jawab saja. Aku janji tidak akan menentang jawabanmu …”

Kyuhyun menatap sendu wajah Seohyun. Dilihatnya Seohyun seperti ingin menangis, namun yeoja itu justru tersenyum hangat kepadanya.

“Seohyun, jeongmal mianhae … Jeongmal mianhae …” ucap Kyuhyun sambil meraih cepat kedua tangan Seohyun. Ia mengecup kedua punggung tangan itu dengan selembut mungkin. Berusaha meminta maaf sebanyak yang bisa ia lakukan.

“Jika kesepakatan itu tetap berlaku, bersediakah kau mengganti sesuatu yang lain?”

“Seohyun …”

“Aku hanya ingin … ketika kita akhirnya harus berpisah … kau tetap bersedia untuk memberikan kabar padaku. Kemanapun dirimu nanti, aku mohon … kirimkan aku satu pot bunga krisan. Dan itu artinya … kau dalam keadaan baik-baik saja …”

“Seohyun, aku mohon jangan seperti ini. Kau tahu, aku akan berusaha sekeras mungkin agar kita tidak akan berpisah. Dalam hati kecilku, aku tidak pernah ingin meninggalkanmu. Tidak pernah … Seohyun …”

Seohyun kembali tersenyum. Ia membelai lembut pipi suaminya itu.

“Ne, aku percaya itu, Oppa …” lirih Seohyun pelan sambil membiarkan Kyuhyun terus mengecup kedua tangannya dengan penuh kehangatan.

 

***

 

Mengangkasa

Biru yang semakin senja

 

Kau tahu, hari ini aku banyak merangkai tawa

Mengalun rajut bahagia

Melukis tirai canda

 

Dan seakan tanpa setitik lara

Aku terus tertawa

Membahana

Membuat burung-burung terbang ke udara

Mencari jiwa-jiwa yang penuh suka

 

Apa kau mau aku tetap bercerita?

Tenang saja, ini masih senja

Kau bahkan masih dapat mengayuh sebuah sepeda

Membawakan aku setangkai krisan putih yang bersahaja

Lalu kuhirup pekat sang aroma

 

Senja …

Betapa hari ini aku sangat bahagia

Terima kasih untuk dia

 

Busan

_Seohyun_

Seohyun mengulum senyumnya tanpa henti. Tiga hari berlalu seperti air yang mengalir begitu saja. Dan sore ini … entah apa yang ada di pikirannya, ia justru semakin tenang dan nyaman melewati hari-harinya bersama Kyuhyun. Kini di hadapannya, satu pot bunga krisan putih berukuran sedang berdiri tegak. Sebagian kelopak bunganya benderang oleh cahaya senja yang mengintip dari celah jendela.

Ya, semakin hari senja semakin indah. Walau musim dingin masih belum berakhir, ia merasa cahaya senja itu seperti ikut menguatkan hati dan perasaannya.

Seohyun masih ingat saat dirinya berumur 5 tahun. Saat itu, ia masih seorang yeoja kecil yang tak mengerti apa-apa. Ia selalu menghabiskan sore harinya bersama sang ayah untuk melihat senja.

Hanya sekedar melihat senja …

Dan entah apa yang membuat Seohyun begitu mengagumi siluet itu, ia teramat jatuh hati pada senja.

Merona … dan melekat erat pada jiwa Seohyun hingga sekarang.

“Senja …” ucap Seohyun tanpa mengalihkan pandangan pada bunga krisan putih di hadapannya. Sekilas, ia mencium aroma bunga krisan itu.

Belum lama hidungnya bersentuhan dengan kelopak bunga krisan, sebuah nada panggilan masuk dari handphone mengusik keasyikannya.

Untuk sesaat, Seohyun mengerutkan kening. Ia mendapati nomor Jessica tengah menghubunginya saat ini. Sebelumnya ia selalu tidak menjawab semua panggilan masuk atau pesan dari siapapun. Tapi kini, ia seperti ingin menjawab panggilan masuk tersebut.

Gemetar tangan Seohyun mengangkat panggilan masuk itu. Ia menggigit bibir bawahnya.

“Yeoboseyo …”

“Seohyun-aah, kau ada dimana?! Kenapa kau tidak pernah menjawab pesan dan teleponku?! Kau tahu, aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu.”

“Ne, eonnie…aku baik-baik saja. Jangan khawatir …”

“Seohyun, aku mohon … bisakah kita bertemu?? Ini amat penting!” ujar Jessica dengan nada bicara yang terdengar sangat buru-buru.

“Aku … Mianhae eonnie… aku tidak bisa memberitahu keberadaanku saat ini pada siapapun. Aku juga tidak bisa bertemu denganmu …”

“Seohyun-aah … aku mohon. Ada suatu hal yang harus kau tahu. Jin Woon sudah menceritakan semuanya padaku …  dan hari ini … kami ingin sekali bertemu denganmu …”

“Jeongmal mianhae eonnie. Aku tetap tidak bisa. Mungkin kau bisa memberitahu aku melalui telepon sekarang …”

Selama beberapa detik tidak terdengar suara apapun dari seberang telepon. Hanya suara deru napas lembut yang sedikit terdengar di telinga Seohyun.

“Eonnie …” ucap Seohyun berusaha memastikan jika Jessica masih mendengarkan suaranya.

“Seohyun, apa kau tahu … kematian orang tuamu bukanlah suatu kecelakaan. Itu merupakan pembunuhan yang dibuat seolah-olah seperti kecelakaan. Jin Woon berhasil menyelidiki semua itu. Dan …”

Seohyun membisu. Matanya tampak berkaca-kaca, sementara bibirnya gemetar.

“Pembunuhnya adalah … Kyuhyun dan saudaranya …”

Setitik airmata mengalir lembut di pipi Seohyun. Ia duduk mematung, seperti kehilangan sebagian nyawanya. Napasnya … entah mengapa terasa amat berat. Di hadapannya sekarang, kini hanya terlintas potongan-potongan memori mengenai peristiwa kecelakaan orangtuanya dulu.

Saat itu, umurnya masih 10 tahun. Dan ia menangis kencang di antara ratusan orang-orang yang membawa tubuh lemah kedua orang tuanya.

“Seohyun … apa kau baik-baik saja?” tanya Jessica menyadarkan lamunan Seohyun.

Tanpa menjawab pertanyaan Jessica, Seohyun segera memutus sambungan telepon itu. Matanya kini menatap beku ke arah bunga krisan putih di hadapannya. Ia menyentuh ujung kelopak bunga krisan itu dengan telunjuknya. Seiring dengan hal tersebut, airmata kembali mengalir membasahi pipinya.

“Ternyata kau di sini …” ucap seseorang dari balik tubuh Seohyun. Suara itu seketika menyayat hati Seohyun. Suara yang tentu saja tak asing lagi di telinga yeoja itu.

Perlahan, Seohyun merasakan sebuah tangan melingkar lembut di pinggangnya. Tangan yang sebelumnya begitu mampu menghangatkan tubuhnya itu, kini terasa seperti menambah kedinginan di dalam hatinya.

“Kau sedang apa? Baru beberapa jam aku meninggalkanmu, aku sudah benar-benar rindu padamu …” ujar Kyuhyun sambil mengecup hangat pipi kanan Seohyun. Dirasakannya pipi Seohyun seperti berair. Kyuhyun pun mengerutkan kening.

“Seohyun … gwenchanayo???” pekik Kyuhyun penuh khawatir begitu menyadari bahwa Seohyun tengah mengalirkan airmata. Dengan cepat, ia segera menghapus seluruh airmata yang berlinang di wajah Seohyun. Namun, entah mengapa … airmata itu seperti tidak dapat berhenti mengalir.

 

***

 

Entah ini sebuah monolog, epilog, atau dialog yang mendera

Aku tertarik ke dalam asa

Tercabik-cabik akan sebuah cerita

 

Ya, dan semua terjadi ketika senja

Saat aku bertemu dengan dia

Dan juga saat aku harus melihatnya pergi dengan sebuah luka

 

Senja …

Bisakah aku bercerita?

 

Busan

_Seohyun_

 

***

One week later

 

BACK TO PROLOG

 

Untuknya yang begitu berarti dalam hidupku

Maaf … karena aku meninggalkanmu

Satu hal yang perlu kau tahu

“Aku takkan pernah berhenti menyayangimu”

(Kyuhyun)

 

Kyuhyun meyakinkan dirinya sekali lagi. Ia memejamkan matanya. Berpikir bahwa ini adalah keputusannya yang terbaik untuk yeoja itu.

Baginya, inilah cara terbaik untuk mencintai seseorang. Tak peduli rasa sakit yang mendera, ia harus tetap melakukan semua ini. Kalau saja cinta itu tak pernah singgah di hatinya, mungkin rasa sakit ini tak akan pernah menyelimuti perasaannya.

Dan semua memang telah terjadi ….

Ia tak perlu menyesali …

Ia tak perlu kembali …

”Saranghae, Seohyun-aah …”

 

***

 

Aku masih tak dapat percaya dengan perasaanku saat ini

Apa mungkin selamanya aku akan menutup hati ini?

Entahlah … yang pasti, dan aku tak tahu sampai kapan, aku masih ingin sendiri

Mungkin hingga sebuah rona senja kembali

Kemudian aku akan pastikan cinta itu akan mampu bersemi

(seohyun)

 

Seohyun menatap buku diary birunya yang baru saja ditutup. Perasaan perihnya atas cinta yang terkhianati masih belum dapat ia sembuhkan. Entah mengapa, semakin ia berusaha untuk menyembuhkannya, justru perih itu semakin dapat menguasainya. Ia terlanjur sakit! Bahkan airmata pun sudah tak mampu lagi membasahi pipinya. Terlalu kering, terlalu sering ia keluarkan saat luka di hatinya baru saja diterima.

Padahal luka itu sudah satu minggu yang lalu hinggap di hatinya. Namun, seolah luka itu tetap bersemi kuat. Sama seperti cintanya yang terdahulu pernah bersemi kuat di hatinya. Seandainya ia tahu bahwa mencintai seseorang akan berakhir pada luka menganga seperti ini, mungkin dari awal pertemuannya dengan namja itu, Seohyun tidak akan membiarkan sebuah cinta bertahta di hatinya. Mungkin ini memang takdir. Tapi mengapa terlalu perih? Mengapa pula harus ia yang merasakannya? Berulang kali Seohyun memastikan bahwa hatinya akan mampu bersinar lagi. Namun ternyata, Seohyun masih gagal. Seohyun masih perlu setitik senja kembali meronakan hatinya. Entah senja yang seperti apa, ia masih terus menunggu.

“Seohyun, kau yakin akan baik-baik saja?” tanya Jessica sambil mengelus lembut rambut Seohyun. Kali ini ia mendapati Seohyun tak lagi mengeluarkan airmata. Sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung sendiri itu hanya terlihat melamun. Tatapannya kosong, menerawang jauh ke arah luar jendela kamarnya.

“Seohyun …” ucap Jessica sekali lagi begitu mendapati Seohyun tak juga merespon pertanyaannya. Kali ini Seohyun menatap Jessica dalam. Tangisnya seperti ingin pecah kembali. Namun berusaha ia tahan.

“Eonnie, apa mungkin aku harus menutup hati ini selamanya?” Seohyun balik bertanya. Jessica tampak bingung. Ia tak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya ia benar-benar tidak tega melihat sahabatnya itu terus menerus bersikap seperti ini. Tentu saja, semua orang pasti pernah merasakan sakit hati. Termasuk Seohyun dan dirinya. Tapi, entah mengapa, yeoja di sampingnya tersebut seolah tidak bisa melupakan rasa sakit yang hinggap di hatinya. Mungkin karena Seohyun terlalu mencintai namja itu. Ya, mungkin karena ia telah memberikan segenap cintanya pada namja itu. Jessica hanya tahu bahwa namja itulah yang menjadi cinta pertama bagi Seohyun. Dan karena itu semua, Seohyun seperti tidak dapat melupakan rasa sakit di dalam hatinya begitu saja.

“Seohyun, aku yakin pasti akan ada namja lain yang jauh lebih mencintaimu. Lupakan dia. Biarkan dia menjadi masa lalumu. Aku sangat berharap kau tidak menutup pintu hatimu terlalu lama. Masih banyak namja lain yang menunggu cinta itu …” jawab Jessica dengan bijak. Ia menatap dalam Seohyun. Bibir mungilnya mengembangkan senyum kecil pada yeoja di hadapannya tersebut.

***

Dua hari berlalu. Keadaan Seohyun jauh lebih buruk. Yeoja itu hanya menghabiskan sebagian waktunya di sebuah kursi dekat perapian. Matanya tak henti menatap ke arah luar jendela. Sementara diary birunya terus saja setia berada di pangkuannya.

Berbalut sebuah gaun putih gading sederhana dan juga mantel tebal berwarna coklat muda, pikiran Seohyum semakin tidak bisa ditebak. Terkadang, yeoja itu berteriak-teriak seperti meluapkan semua perasaan lukanya. Lalu menangis hingga airmatanya mengering sendiri.

Melihat hal tersebut, Jessica yang terpaksa harus tinggal bersama dengan yeoja itu, semakin khawatir dengan keadaan Seohyun. Yeoja itu berulang kali memaksa Seohyun untuk makan, namun hanya beberapa suap saja yang berhasil masuk ke dalam mulut Seohyun.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Jin Woon begitu tiba di hadapan Jessica. Namja itu menatap sekilas ke arah Seohyun yang terlihat melamun.

“Kondisinya semakin buruk … Hari ini bahkan ia belum makan sama sekali …” keluh Jessica penuh dengan kekhawatiran.

“Apa kita perlu memanggil seorang psikiater?”

“Psikiater?! Kau pikir Seohyun sudah gila??!!”

“Ehmm … mianhae. Maksudku bukan seperti itu. Tapi, apakah kau tidak merasa keadaan Seohyun semakin memburuk? Aku takut dia benar-benar frustasi …”

“Entahlah … mungkin aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku mohon … jangan libatkan psikiater dulu. Aku yakin, Seohyun hanya butuh waktu …”

“Baiklah … jika itu maumu. Aku benar-benar berharap … Seohyun dapat kembali seperti dulu.”

“Mengenai Kyuhyun, apa kau sudah berhasil menemukannya??” tanya Jessica mengalihkan pembicaraan.

“Sulit sekali mencari keberadaan namja itu. Bahkan, Cho Sang Hyun dan yang lainnya masih terus bermain-main denganku. Aku benar-benar dibuat gila oleh mereka semua …” jawab Jin woon sambil menghela napas tak tenang. Wajahnya terlihat sangat menggeram.

“Malam ini … apa kau akan mencari mereka kembali?”

“Entahlah … aku dengar dari siaran berita, salju akan turun lebat malam ini. Semua penduduk kota Busan disarankan untuk tidak keluar rumah. Mungkin, kami akan melanjutkan pencarian besok …”

“Apa kau bilang?!! Salju akan turun lebat malam ini?!” pekik Seohyun tiba-tiba begitu mendengar percakapan Jin Woon dan Jessica. Wajahnya terihat sangat panik.

“NE …” jawab Jin Woon singkat. Ia merasa heran dengan reaksi Seohyun malam ini yang tidak biasanya.

Secepat kilat, Seohyun menutup rapat mantelnya. Tanpa ragu, ia segera pergi meninggalkan Jessica dan Jin Woon begitu saja.

“Seohyuuunn!!! Kau mau kemana?!!” teriak Jin Woon berusaha mengejar Seohyun. Begitu juga dengan Jessica. Namun, entah mendapat kekuatan darimana … Seohyun justru berhasil lari dan meninggalkan jejak dari mereka.

***

 

Even it hurts

I will always love you

Even it must die

I will always beside you

 

Seohyun berjalan perlahan melalui sebuah jalan setapak yang kini sudah terpenuhi oleh butiran salju. Ia tidak mempedulikan butiran salju yang begitu tebal terus menerpa wajah dan mantelnya. Hawa dingin yang amat menusuk pun tak ia hiraukan.

Ia terus berjalan. Beberapa meter lagi ia akan sampai pada sebuah gereja tua yang terletak tepat di kaki bukit Busan.

Gereja tua itu adalah saksi bisu pernikahannya dengan Kyuhyun. Ia sangat yakin jika namja itu berada di sekitar gereja tua tersebut.

Hati kecilnya tidak bisa bohong. Ia ingin sekali bertemu dan merengkuh tubuh namja itu ke dalam pelukannya kembali. Walau perasaannya terluka, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ia masih memendam sesuatu yang lain di dalam hatinya.

Sesuatu yang selalu ingin ia buang jauh. Sesuatu yang ingin ia lenyapkan begitu saja.

Dan hasilnya … justru semakin melekat erat di lubuk hatinya yang terdalam.

Tanpa sadar, Seohyun mengalirkan airmata. Entah airmata yang ke berapa untuk hari ini, Seohyun tak mampu lagi menghitungnya.

Dingin yang semakin mencekam, hampir menggoyahkan tubuhnya yang lemah. Ia berusaha keras menaiki bukit kecil itu. Saat-saat seperti ini, ia benar-benar menyesal karena sebelumnya tak sempat mengisi tubuhnya dengan makanan. Ia merasa tak mampu lagi berjalan. Seluruh persendiaannya mendadak terasa kaku dan berat. Bibirnya pun terasa sangat beku.

Kedua tangannya berusaha ia kepal. Ia tidak ingin tangannya ikut membeku seperti bagian tubuh lainnya yang mulai tak kuasa ia gerakkan.

Sesaat, Seohyun terjatuh duduk. Ia memukul-mukul tangannya pada butiran salju putih. Tangisnya terus memecah seiring dengan butiran salju yang terus turun lebat. Ia mengedarkan pandangan, tak satu pun orang akan keluar pada malam dingin seperti ini. Apalagi di tengah-tengah bukit gelap yang begitu mencekam.

Dan detik jam terus berlalu. Begitu lambat. Begitu terasa amat lambat …

Seohyun menyeka airmata. Sekuat tenaga ia mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia pun mulai berdiri kembali. Dengan sedikit tertatih, Seohyun kembali menaiki bukit kecil itu. Perlahan, pikirannya mengangkasa jauh. Memorinya memutar kembali semua kenanagan indah bersama Kyuhyun. Saat pertama kali dirinya bertemu dengan namja itu. Saat dimana namja itu selalu menggodanya. Dan juga saat semua rintangan-rintangan berusaha memisahkan mereka berdua. Hingga akhirnya mereka harus berpisah … hanya karena sebuah kenyataan lain yang justru sangat melukai perasaan Seohyun. Semua itu benar-benar di luar dugaan Seohyun. Namun, berkali-kali Seohyun berpikir … semua itu adalah keputusannya.

Keputusan untuk mencintai seorang pembunuh. Dan seharusnya memang ia telah siap jika pada akhirnya ada kenyataan lain yang akan melukai perasaannya.

Seohyun sadar … selama seminggu perpisahannya dengan Kyuhyun, semua itu seperti tidak dapat dipercaya. Selama ini ia bersusah payah mempertahankan agar Kyuhyun terus berada di sisinya, dan entah mengapa … ia merasa menjadi tidak adil jika akhirnya harus membiarkan namja itu pergi.

Kali ini … ketika ia telah memikirkan semuanya dengan amat matang. Seohyun pun tak peduli lagi dengan luka di hatinya. Sebisa mungkin ia menutup luka hati itu.

Sampai kapanpun ia akan melindungi Kyuhyun, namja yang tak lain adalah suaminya sendiri.

Sepuluh menit berlalu. Seohyun menghela napas tenang. Ia menghentikan langkah kakinya tepat di samping bangunan gereja tua. Matanya berhasil mendapati seorang namja dengan mantel berwarna hitam, tengah terduduk sendiri sambil menatap ke langit angkasa. Sama seperti dirinya, namja itu tak peduli pada salju tebal yang menerpa wajah dan mantelnya.

“Oppa …” lirih Seohyun dengan mata berkaca-kaca.

Seketika itu juga, tubuhnya jatuh tak berdaya.

 

***

 

Kepak sayap ini melemah

Dan aku terhempas

Jauh ke dasar laut yang tak pernah kuduga

 

Lalu dia datang

Dingin …

Ya, tangan dinginnya merengkuh tubuh lemahku

_Seohyun_

 

TBC

 

***

 

JAngan lupa komen or like

Gomawo

 

 

 

8 Responses to “[FF] Elegy (Chapter 9)”

  1. han chaerin 31 October 2012 at 2:49 pm #

    Nyesek banget :”( feelnya dpt bgt eon,
    Apalagi sambil denger lagu hate u love u
    Seo jangan pisah sama kyu
    Jinwoon jgn tega sama seo
    Ada suatu alasan knp kyu cs bunuh ortu seo?
    Lanjut eon :”(

  2. devika 1 November 2012 at 8:51 pm #

    Haduh… Nyeseek eon.. Hduhhh… Hduuh… Lanjuuttttt….😥 jleeeb

  3. devika 1 November 2012 at 8:57 pm #

    Lanjuutt.eoonn!!!!

  4. N A D A 3 November 2012 at 11:33 am #

    lanjut oenn!!!!!!!!!!!!! daebak!!!!!!!!! makin lama makin menarik =DDD

  5. sharfina 4 November 2012 at 11:35 am #

    daebaaaakkk! Nyesek bc.ny. . Pasti seo bertemu ma kyu. . Seokyu bersatulah. . Lupakan masa lalu kalian trus memulai kehidupan baru. . Next ff jgn lama2. . . Daebak! Fighting!

  6. phi_ka 10 November 2012 at 6:50 pm #

    Chingu bru selesai ni bcax…………..sumpah sedih bgt saat seobaby hrus pisah dari kyu oppa ………lanjutin yah chingu. Semoga happy ending…! Fighting !!!!!!!!!

  7. Marissa haq 13 November 2012 at 8:19 am #

    Nyesek banget seokyu bersatu tp kenyata2n’y g bisa bersatu.
    Benarkah kyu yg bunih ortu seo…semoga itu gak bener kalo iya tambah susah aja seokyu bersatu.
    Ya ampun seo pingsan semoga gak kenapa2…
    Biasa coment d wp RKF…eh nih mampir d wp pribadi author hehe….
    Lanjuuuut part 10 end kah??

  8. handa 31 August 2014 at 3:49 pm #

    hadeh ngenes bgt,,,, nikah di tinggalin,,,, kenyataan pwmbunuh org tuanya,,,, dilema tuh si mbk seo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: