[FF] Elegy (Chapter 8)

8 Oct

 

Judul FF                    : ELEGY (Part 8)

Nama Author                        : Similikiti_balabala

Main Cast                  :

Cho Kyu Hyun (SJ) as Cho Kyu Hyun  

Seo Joo Hyun (SNSD) as Seo Joo Hyun

Jung Jin Woon (2AM) as Jung Jin Woon

 

Lee Donghae (SJ) as Lee Donghae

Jung Soo Yeon /Jessica Jung (SNSD) as Jessica Lee

 

Shim Chang Min (DBSK) as Cho Chang Min

Kim Jong Hyun (SHINee) as Cho Jong Hyun

Choi Min Ho (SHINee) as Cho Min Ho

Jung Soo Jung/Krystal Jung(f(x)) as Krystal Cho

 

Jung Eun Chan as Owner Jung Advertising / Jin Woon’s grandpa (Fictional)

Cho Sang Hyun as Leader of Cho’s Gangster (Fictional)

 

Genre                          : Romance,  Sad

Type                           : Chapter

 

Annyeong … muncul juga nih epep. HAppy reading…JAngan lupa komen or like ya🙂 Gomawo …

Chapter2 sebelumnya dari FF ini ada di blog http://readingskoreanfanfiction.wordpress.com/

 

Previous chapter

“Kyuhyun Oppa … Benarkah itu kau?”

Mendengar namanya disebut, Kyuhyun segera menoleh. Seketika itu juga, matanya membulat sempurna.

“Krystal …”

“Jadi, kau benar-benar masih hidup??”

“Aku …”

“Well, ada seseorang yang memiliki nyawa banyak rupanya!”

Kyuhyun kembali terkejut. Dalam satu waktu, ia seolah kembali berhadapan dengan orang-orang yang selama ini berusaha dihindarinya.

“Cho Kyu Hyun, ternyata kau masih hidup!” ujar Changmin dengan tatapan tajam ke arah Kyuhyun. Di sampingnya, berdiri pula Min Ho dan Jong Hyun. Mereka semua menatap ke arah Seohyun dan Kyuhyun secara bergantian.

“Seohyun, kajja kita pergi …” lirih Kyuhyun sambil menarik paksa lengan Seohyun. Wajah Kyuhyun terlihat sangat ketakutan.

“Dengar …”

Sesaat Kyuhyun menghentikan langkah kakinya. Ia berusaha mendengar baik-baik apa yang diucapkan Changmin padanya.

“Aku hanya akan memberikan peringatan padamu! Cho Sang Hyun terus mencarimu! Dan kau tahu, dia tidak akan menyerah dengan mudah … Tapi kau tenang saja! Aku juga tidak akan membiarkan Cho Sang Hyun menemuimu! Kau tahu bukan, alasannya hanya satu! Aku benci dirimu yang selalu mengungguli aku!” sahut Changmin dengan nada suara penuh ancaman. Nada suara itu seolah membenturkan kepala Kyuhyun ke sebuah tebing yang tajam.

Perlahan, Kyuhyun kembali melangkahkan kakinya. Ia terus menggenggam tangan Seohyun erat dan seolah tidak membiarkan siapapun merebut yeoja itu darinya.

***

_Elegy Part 8_

Kyuhyun terus menggenggam tangan Seohyun dengan sangat erat. Langkah kakinya begitu cepat memasuki pondok nenek Hye Sung. Wajahnya benar-benar panik dan deru napasnya sangat tak menentu. Sementara itu, pikirannya masih terus terbayang pada empat sosok yang sebelumnya sempat ia temui di arena permainan ski.

Sesekali ia menoleh ke arah Seohyun yang mengikuti  langkah kakinya. Yeoja itu benar-benar menatap takut ke arah Kyuhyun. Dan membiarkan genggaman tangan Kyuhyun yang begitu erat terus melekat di tangan kirinya. Sejujurnya ia ingin sekali melepas genggaman tangan itu. Bagaimana tidak, genggaman tangan itu terlalu kuat hingga membuatnya merasa tak nyaman dan kesakitan. Tapi Seohyun mengerti, Kyuhyun tidak akan membiarkan hal itu terjadi.  Namja itu pasti tidak akan memberikan sedikit celah agar Seohyun dapat melepas genggaman tangannya yang begitu kuat.

“Kyuhyun-ssi … kau sudah pulang? Apakah ikan bakarnya sudah habis terjual?” tanya nenek Hye Sung menyambut kedatangan mereka berdua.

“Nenek … mianhae … Aku harus segera pergi,” ujar Kyuhyun dengan bibir gemetar tanpa menjawab pertanyaan nenek Hye Sung sebelumnya.

“Pergi? Waeyo? Kenapa harus terburu-buru seperti ini?”

Kyuhyun kembali tak menjawab pertanyaan nenek Hye Sung. Namja itu segera mengemas semua pakaian dan perlengkapannya ke dalam ransel. Begitu juga dengan Seohyun. Keduanya sama-sama bungkam dan tetap fokus pada semua barang-barang bawaan mereka.

“Kyuhyun-ssi … waeyo? Apakah terjadi sesuatu?” tanya nenek Hye Sung semakin heran.

“Nenek … Aku … Aku baru saja bertemu mereka …”

“Mereka? Maksudmu Changmin dan yang lainnya?”

Kyuhyun terdiam sesaat. Keningnya tiba-tiba berkerut. Ia sedikit heran karena nada bicara nenek Hye Sung terdengar seperti mengetahui sesuatu melebihi dirinya dan Seohyun.

“Nenek … kau …”

“Mianhae … tapi aku yang memberitahu keberadaanmu pada mereka … Mianhae Kyuhyun-ssi … Aku tidak punya pilihan lain …”

“Nenek?!! Jadi kau yang memberitahu mereka semua?! Apa maksud semua ini?! Apakah nenek tidak sadar jika semua itu dapat membahayakan aku dan Seohyun?!!”

“Justru karena nenek ingin melindungi kau dan Joo Hyun …”

“Aku sama sekali tidak mengerti …”

“Kyuhyun, kau harus sadar. Secepat apapun kau berlari bersama Joo Hyun, mereka akan dapat mengejarmu. Aku hanya tidak ingin … kau melibatkan Joo Hyun dalam takdirmu. Dan aku tidak ingin kau menjadikan Joo Hyun kelak akan seperti diriku …”

Kyuhyun tak dapat berkata apa-apa. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Seketika tubuhnya melemas.

“Setelah kau pergi tadi, aku sengaja memberitahu mereka. Kupikir, mereka akan memisahkanmu dengan Joo Hyun. Tapi ternyata … kau berhasil pergi dari mereka …”

“Sebenarnya, bukan aku yang berhasil pergi dari mereka. Tapi mereka yang membiarkan aku pergi …”

“Apa kau bilang??”

“Ne … Changmin tidak ingin aku kembali pada Cho Sang Hyun. Kau tahu, dari dulu Changmin memang membenciku. Tapi … aku tidak peduli hal itu. Aku hanya berharap Changmin memang memegang janjinya. Dia bilang, dia tidak akan membiarkan Cho Sang Hyun menemuiku …”

“Itu tidak mungkin! Aku tahu sekali bagaimana Cho Sang Hyun. Dia menginginkanmu, Kyuhyun-ssi … Dan dia tidak akan menyerah sedikitpun. Walaupun Changmin berusaha menjauhkanmu dengan Cho Sang Hyun, bocah itu tetap tidak akan bisa melawan Cho Sang Hyun … ”

Kyuhyun menatap beku wajah nenek Hye Sung. Perlahan, ia berjalan menghampiri sosok tua itu. Dilihatnya wajah nenek Hye Sung yang tampak begitu khawatir. Entah apa yang dirasakan yeoja itu di dalam hatinya, Kyuhyun sangat mengerti bahwa nenek Hye Sung hanya berusaha melindungi dirinya dan Seohyun.

Tepat di hadapan nenek Hye sung, Kyuhyun  menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai kayu. Sekilas, ia menatap kedua mata nenek Hye Sung dengan gemetar. Tanpa ragu, ia pun bersujud di hadapan nenek Hye Sung.

“Nenek, aku mohon … Lindungi aku dan Seohyun. Aku tak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa. Kau satu-satunya seseorang yang benar-benar aku harapkan …”

“Kyuhyun-ssi …”

“Aku dan Seohyun saling mencintai … Aku mohon, aku sangat memohon padamu …”

Kyuhyun bersujud ke lantai. Ia menempelkan dahi dan hidungnya tepat di lantai kayu tersebut. Melihat hal itu, nenek Hye Sung merasa bergetar. Hati kecilnya ingin sekali melindungi bocah yang tengah bersujud di hadapannya itu. Namun, tidak dengan menyetujui permohonan Kyuhyun padanya. Bagaimanapun juga, ia telah merasakan semua kesakitan itu di masa lalunya. Dan ia tidak ingin orang lain merasakan hal itu juga.

“Aku mohon hentikan … Kau tahu, aku tidak akan membantumu …”

“Aku mohon … Aku benar-benar memohon padamu, Nek …”

Kali ini Kyuhyun menegakkan wajahnya. Ia melihat nenek Hye Sung mengalirkan airmata. Yeoja tua itu menatap kosong ke arah Seohyun. Seketika itu juga ia kembali teringat pada dirinya di umur yang sama seperti Seohyun.

“Pergilah …”

“Nenek …”

“Kau sangat keras kepala. Bahkan kau tidak mendengarkan sedikitpun apa yang kukatakan. Dengar, aku tidak tahu apakah aku bisa melindungi kalian atau tidak. Tapi, aku akan berusaha …”

“Nenek, jeongmal gamsahamnida … Mianhae … Jeongmal mianhae …”

Nenek Hye Sung terdiam. Dilihatnya, Kyuhyun kini menarik lengan Seohyun. Dengan cepat, mereka berdua bergegas pergi dan segera menghilang dari hadapan nenek Hye Sung.

***

BRUUKKK!!

Sebuah pukulan keras menghantam wajah Changmin hingga ia pun tersungkur ke sebuah dinding. Darah segar mengalir lembut dari celah hidungnya. Ia terlihat meringis kesakitan. Sementara itu, Minho, Jonghyun, dan Krystal hanya menatap beku ke arah Changmin yang kini tampak tak berdaya. Mereka bertiga tak dapat berbuat banyak. Hanya diam. Itu saja yang bisa mereka lakukan jika tidak ingin mendapatkan masalah.

“Ini adalah balasan dari seseorang yang berusaha melawanku!” seru Cho Sang Hyun murka. Ia menatap wajah Minho, Jonghyun dan Krystal secara bergantian. Menerka satu per satu ketiga ekspresi wajah di hadapannya itu.

“Sudah kubilang, jangan pernah mempermainkan aku! Ingat, aku selalu mengawasi semua yang kalian lakukan di luar sana! Kalian pikir, aku tidak tahu apa yang kalian lakukan, hah??!” lanjutnya lagi dengan nada bicara yang menggelegar.

“Mianhae, Appa … Tapi Kyuhyun Hyung melawan kami semua! Dan kami tidak dapat berbuat banyak …” bohong Minho berusaha membela diri.

“Hahahaha!! Lelucon apalagi ini?! Kau bilang, dia melawan kalian yang jumlahnya lebih banyak?!”

PLAAKK!!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Minho. Namja itu menggigit bibir bawah, berusaha menahan rasa sakit yang mendera di wajahnya.

“Dengar, hentikan semua kekonyolan ini! Aku tidak main-main dengan kalian! Jika kalian melakukan hal yang sama lagi, aku tidak akan segan-segan menembakkan peluru ini tepat di kepala kalian!” ujar Cho Sang Hyun sambil memainkan pistol di tangan kanannya. Tak lama, namja itu pun pergi diiringi dengan berbagai tatapan dari keempat anak asuhnya.

***

            Jin Woon membesarkan pupil matanya. Ia terus menatap semua dokumen-dokumen yang berada di meja kerjanya. Perlahan, deretan kalimat yang terpampang jelas di depan matanya itu, seolah mencabik-cabik perasaannya. Di satu sisi ia begitu senang karena akhirnya deretan nama pembunuh yang selama ini mengancam kota Busan, telah berhasil ia ungkap. Namun, di sisi lain, sebuah nama telah membuat kedua lututnya melemas. Bahkan bukan saja nama itu yang semakin membuat otaknya berputar-putar tak karuan. Sebuah profil singkat beserta foto dari salah satu pembunuh itu membuatnya seperti tak bernapas dalam beberapa detik.

“Cho Kyu Hyun … apa benar kau salah satu dari mereka …” lirih Jin Woon hampir tak percaya. Namun, ia tak perlu menjawab pertanyaan itu.

Semua sudah jelas! Semua sudah terbukti!

Fakta mengejutkan itu berhasil membuat Jin Woon tak berdaya!

“Detektif Jin Woon … Lapor! Kami telah menyiapkan semuanya untuk operasi malam ini! Laporan selesai …” ujar salah satu staf kepolisian begitu memasuki ruangan Jin Woon.

“Ne, ini adalah rute dari target operasi kita malam ini …” balas Jin Woon sambil menyodorkan sebuah kertas yang berisi peta singkat.

“Kau yakin jika salah satu dari mereka berada di tempat ini? Maksudku … bukankah ini klinik hewan kecil?” tanya staf itu meyakinkan Jin Woon.

“Aku sangat yakin dia berada di sana. Tapi … aku tidak yakin apakah pemilik klinik hewan tersebut akan mengijinkan kita masuk atau tidak …”

“Mianhae, apa maksud Anda? Apakah Anda kenal dengan pemilik klinik itu?”

“Ne, aku sangat kenal dengan pemilik klinik itu …”

“Jika begitu, bukankah itu bagus? Kita bisa bekerja sama dengannya untuk menangkap pembunuh itu. Tapi … tunggu dulu … Kau …”

Staf kepolisian itu tiba-tiba membisu. Ia berusaha membaca pikiran Jin Woon. Ditatapnya kedua bola mata Jin Woon yang begitu tajam menatap ke arahnya. Polisi itu merasa Jin Woon seperti mengetahui sesuatu.

“Aku mohon … biarkan aku yang bertemu dengan pemilik klinik hewan itu dan memastikan bahwa dia bisa bekerja sama dengan kita …” pinta Jin Woon dengan nada bicara yang terdengar memburu. Tak lama, ia mendapati staf kepolisian di hadapannya itu hanya menganggukkan kepala.

***

Malam dingin di kota Busan masih belum beranjak. Tampak di sebuah ruang sederhana, Kyuhyun dan Seohyun tengah menikmati hidangan makan malam mereka. Keduanya membeku di kursi masing-masing dengan pandangan kosong ke arah makanan di meja makan. Mereka berdua berusaha memikirkan apa yang harus mereka lakukan di hari-hari selanjutnya. Sesaat, Kyuhyun berpikir mungkin sebaiknya Seohyun dan dirinya segera berpindah rumah. Namun, ia masih tidak tahu harus pergi kemana. Bahkan, ia juga harus mempertimbangkan pekerjaannya agar mereka berdua tetap dapat memiliki uang. Belum lagi mereka harus semakin tertutup dengan dunia luar. Dunia dimana orang-orang tidak boleh tahu mengenai identitas Kyuhyun yang sebenarnya. Termasuk dengan Jin Woon, Jessica, dan juga Donghae. Semua pikiran-pikiran itu menyatu di dalam otak mereka. Seolah meronta-ronta agar segera ditemukan jalan keluarnya.

Pertemuan Kyuhyun dengan Changmin dan yang lainnya merupakan sebuah peringatan khusus untuk mereka berdua. Tentu saja, hal itu membuat mereka semakin diselimuti oleh ketakutan yang mencekam setiap detiknya.

Ya, setiap detik akan kemungkinan pertemuan mereka dengan Cho Sang Hyun. Dan juga setiap detik akan kemungkinan mereka harus berpisah.

“Oppa …”

“Ne …”

“Bagiku, setiap detik sejak pertemuan kita dengan mereka … adalah suatu mimpi buruk yang selalu mencengkam bagiku. Apa kau juga merasakan hal yang sama?” ungkap Seohyun mengawali pembicaraannya dengan Kyuhyun. Yeoja itu terlihat tidak begitu bersemangat menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Bahkan, ia lebih tertarik memandang butiran salju lembut yang turun di luar jendela.

“Kau jangan khawatir … aku janji, tidak akan membiarkan mereka menyakitimu …” ucap Kyuhyun lembut sambil berusaha tersenyum. Sejujurnya namja itu pun merasakan ketakutan. Bahkan ketakutan itu jauh lebih mencengkam dari pikirannya selama ini.

“Oppa, bagaimana jika kita pindah ke suatu tempat? Kemanapun itu … asalkan tidak ada orang yang dapat mengganggu kehidupan kita. Aku tidak bisa seperti ini. Aku benar-benar tidak tenang. Aku takut … mereka akan mengambilmu dariku …”

“Seohyun, tenanglah. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini. Sekarang … lebih baik habiskan makananmu. Lihat! Kau semakin kurus … dan kau membuatku semakin merasa bersalah …”

“Mianhae Oppa, aku hanya tidak ingin kita berpisah. Kau tahu, aku benar-benar tidak siap dengan semua itu …”

“Ne, aku juga tidak ingin kau pergi dariku. Dan aku pastikan … aku akan tetap menjagamu. Apapun itu … akan aku lakukan.”

Seohyun tersenyum kecil. Ia sedikit tenang sekarang. Apalagi kini di hadapannya tengah mengembang sebuah senyum balasan yang begitu menenangkan perasaannya. Perlahan, ia kembali menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Lalu sedikit demi sedikit melupakan kekhawatiran yang selama ini ia takutkan.

Belum beranjak sepuluh menit berlalu, sebuah bel pintu depan membuyarkan ketenangan Kyuhyun dan Seohyun secara serentak. Spontan mereka berdua saling tatap. Mencoba membaca pikiran mereka masing-masing.

Sedetik kemudian, Seohyun memutuskan untuk beranjak dari kursinya. Ia mengintip dari balik tirai jendela lantai dua yang setengah membuka. Seketika itu juga, matanya membulat sempurna dan kerongkongannya seolah tercekat. Ia baru saja mendapati deretan mobil polisi yang berjajar rapi di depan kliniknya. Bahkan samar-samar ia seperti melihat seseorang yang tak asing di matanya.

“Seohyun, nuguseyo?” tanya Kyuhyun heran begitu melihat Seohyun hanya berdiri mematung di jendela.

“Oppa! Kau harus segera pergi! Palli, kau harus segera pergi!” ujar Seohyun penuh khawatir sambil berlari ke kamarnya dan mengambil mantel tebal milik Kyuhyun. Sementara itu, Kyuhyun menyempatkan dirinya untuk mengintip dari balik jendela. Sama halnya dengan Seohyun, namja itu pun begitu panik. Dengan cepat, ia meraih mantel tebal yang telah disiapkan oleh Seohyun. Lalu pergi melalui sebuah loteng tanpa mempedulikan lagi apa yang akan dilakukan Seohyun kepada para polisi tersebut.

Seiring dengan kepergian Kyuhyun, Seohyun pun segera menuruni anak tangga. Ia berusaha menenangkan dirinya sebisa mungkin, lalu bersiap menghadapi para polisi yang berada di depan kliniknya. Dan tentu saja … menghadapi salah satu detektif muda yang mungkin akan mencecarnya dengan ribuan pertanyaan investigasi untuknya.

“Annyeong …” sapa Seohyun sambil membungkukkan badan. Ia merasakan dirinya sedikit canggung. Apalagi tepat di hadapannya, kini berdiri sosok Jin Woon yang terlihat begitu memburu.

“Ne, annyeong … Sebelumnya mianhae jika aku mengganggu waktu istirahatmu. Aku dan para staf polisi bermaksud untuk menangkap seorang pembunuh yang selama ini tengah dicari-cari oleh kepolisian Busan. Dan salah satu pembunuh itu adalah …”

“Chankamma! Aku tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Dan mengapa kalian semua datang ke klinikku?” potong Seohyun cepat sebelum Jin Woon melanjutkan kalimatnya.

Sesaat Jin Woon mengatupkan mulut rapat-rapat. Ia menatap Seohyun tajam. Tercengang akan kata-kata Seohyun yang seolah mempersulit keadaannya.

“Aku mohon … ijinkan aku memeriksa rumahmu. Aku tahu, tanpa perlu penjelasan dariku, mungkin kau sudah mengetahui semuanya. Mustahil jika kau tidak mengetahui apa-apa tentang seseorang yang tinggal satu atap dengamu … Jadi, bisakah kau tetap membiarkan aku masuk? Kau bisa membaca surat perintah ini …” ujar Jin Woon berusaha menahan kendali emosinya. Entah mengapa, ia semakin terbawa suasana yang tidak nyaman begitu berhadapan dengan Seohyun. Setelah terakhir pertemuannya dengan yeoja itu, ia masih belum dapat melupakan sakit hatinya. Menghadapi kenyataan bahwa Seohyun mencintai namja lain dan juga kenyataan bahwa namja yang dicintai Seohyun adalah seorang pembunuh, hampir membuat Jin Woon setengah gila. Belum lagi ia juga harus menghadapi sikap Seohyun yang seolah berusaha melindungi Kyuhyun darinya.

“Jadi, kau menuduh Cho Kyu Hyun sebagai salah satu pembunuh itu?” ucap Seohyun kembali bertanya.

“Dengar, aku tidak menuduh tanpa bukti-bukti dan fakta yang jelas! Apakah kau perlu mengetahui semua bukti-bukti itu? Aku rasa tidak perlu, bukan? Karena pasti kau telah mengetahuinya langsung dari mulut namja itu …”

Kini giliran Seohyun yang membisu. Ia tidak tahu lagi harus mengucapkan apa. Ia pasrah jika Jin Woon dan para polisi tersebut memeriksa klinik dan rumahnya. Sesaat, Seohyun tampak memejamkan mata. Ia membiarkan Jin Woon dan para polisi itu mengelilingi rumahnya. Ia mengingat-ingat semua barang yang berhubungan dengan Kyuhyun. Walaupun ia sempat menyembunyikannya dengan kilat, tapi Seohyun tidak dapat memastikan jika semua barang-barang milik Kyuhyun tidak ada yang terlewatkan.

Lima belas menit berlalu. Jin Woon dan para polisi itu tidak berhasil menemukan apapun. Tampak dari raut wajah Jin Woon yang begitu kesal. Apalagi ia benar-benar menyesal karena semua yang dilakukannya terkesan sia-sia.

“Bagaimana? Tidak ada apapun, bukan?” tanya Seohyun seolah menantang Jin Woon. Namja itu mengerutkan kening. Ia semakin tidak mengerti mengapa Seohyun bisa melakukan semua ini untuk seorang pembunuh seperti Kyuhyun.

“Seo Joo Hyun … aku tidak mengerti mengapa kau melakukan semua ini. Kau tahu, jika sikapmu seperti ini, kau bisa dianggap terlibat dengan komplotan pembunuh itu …” ucap Jin Woon penuh penekanan.

“Sudah kubilang dari awal, aku tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.”

“Anni! Kau sangat tahu apapun tentangnya! Dan kau berusaha untuk melindunginya!”

“Begitukah? Apakah kau bisa membuktikan semua ucapanmu itu?”

“Dengar, mulai besok rumahmu akan dijaga ketat oleh polisi. Secepatnya aku akan mengurus surat perintah ke pusat dan tidak akan memberikan celah sedikitpun di setiap jengkal rumahmu …”

Seohyun tak membalas ucapan Jin Woon. Ia membiarkan namja itu pergi bersama para polisi yang semula memeriksa ketat rumahnya. Sejenak Seohyun hanya berdiri mematung di depan pintu klinik. Menyaksikan mobil-mobil polisi itu mulai pergi dan menghilang dari hadapannya. Seohyun berpikir … mungkin sebaiknya ia segera pergi dari rumah ini. Tentunya sebelum besok pagi para polisi itu kembali dan menjaga ketat rumahnya.

Seiring dengan pikirannya yang terus berlabuh, ia mendapati sebuah pesan singkat tertera di layar handphone.

Temui aku di ujung blok perumahan … (Kyuhyun)

 

Tanpa pikir panjang, Seohyun segera mengambil mantel tebal dan syalnya. Ia mengunci rapat pintu kliniknya, lalu beranjak pergi dalam balutan salju dingin yang masih terus turun.

Sementara itu, tak jauh di ujung seberang jalan kliniknya, tampak seorang namja mengenakan mantel dan kacamata hitam. Namja itu menyeringai ke arah Seohyun.

“Cho Kyu Hyun … waktumu tidak banyak lagi …” ucapnya sambil menyipitkan mata.

***

            Seohyun berjalan perlahan melalui sebuah jalan setapak yang kini sudah terpenuhi oleh butiran salju. Kemudian ia menuruni puluhan undakan kecil yang mengantarnya hingga ke ujung blok perumahan di sekitar pinggiran kota Busan. Sesekali ia memalingkan wajah ke sekeliling jalan yang dilaluinya. Memastikan bahwa tak ada satu pun orang mengikutinya dari belakang, termasuk Jin Woon ataupun para polisi yang sempat memeriksa rumahnya.

Napas Seohyun terdengar sedikit memburu. Begitu juga dengan detak jantungnya yang begitu cepat. Semua itu karena suasana mencekam yang mulai hinggap di pikirannya.

Setengah jam ia menghabiskan waktu hingga tiba di ujung blok perumahan.  Seohyun mengedarkan pandangan, ia masih belum berhasil menemui Kyuhyun dimanapun. Perlahan, ia mengeluarkan handphone dari saku mantelnya. Kemudian tanpa ragu menghubungi nomor Kyuhyun sambil tetap berjaga-jaga.

Belum sempat ia mendengar nada sambung berbunyi, sebuah tangan meraih handphonenya dari belakang. Tangan itu begitu dingin, membuat detak jantung Seohyun semakin bertambah cepat. Sesaat Seohyun hanya terpaku dan membisu. Ia berharap jika Kyuhyun akan segera menemuinya.

“Apakah kau baik-baik saja? Apa polisi-polisi itu menyakitimu?” ucap seorang namja dengan nada suara yang sangat lembut. Suara itu terdengar jelas di telinga Seohyun. Suara yang tidak asing lagi di telinganya.

“Oppa …” balas Seohyun singkat. Ia tidak melanjutkan kata-katanya begitu menyadari bahwa sebuah tangan kini memeluk erat tubuhnya dari belakang.

“Mianhae … Jeongmal mianhae …” lirih Kyuhyun sambil memejamkan mata. Namja itu merasakan tangan hangat Seohyun menyentuh lembut pipinya.

“Oppa, apa yang harus kita lakukan? Mulai besok, polisi akan menjaga ketat rumahku. Mereka sangat yakin bahwa aku menyembunyikanmu …” tanya Seohyun dengan ragu-ragu. Mendengar hal itu, Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia menatap kedua bola mata Seohyun yang kini menghadap ke arahnya.

“Tinggalkan aku … Biarkan aku menyelesaikan semuanya sendiri …” jawab Kyuhyun sambil membuang pandangannya ke tepi jalan.

“Oppa, kenapa kau berbicara seperti itu? Baru saja kau bilang bahwa kau tidak ingin aku pergi darimu. Kenapa kau seperti ini sekarang?! Wae Oppa?!”

“Ne, aku tahu. Tapi … aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin melibatkanmu lagi, Seohyun …”

“Anni! Sampai kapanpun aku akan tetap bersamamu! Aku akan berusaha melindungimu, Oppa …”

“Seohyun, sekali ini saja … Bisakah kau mendengarkan aku?”

“Anni! Aku tidak akan mendengarkan kata-kata Oppa …”

“Dengar, apapun yang terjadi nanti, aku mohon … Tetaplah hidup seperti saat-saat kau belum mengenalku …”

“Aku tidak bisa. Aku tidak akan bisa …”

“Seohyun, aku mohon padamu …”

“Anni! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!!”

Seohyun mengalirkan airmatanya. Ia terisak, ia terus memandangi wajah Kyuhyun yang kini membisu. Disadarinya Kyuhyun menghapus airmata yang mengalir di wajahnya itu. Namun dengan cepat Seohyun menepis tangan namja itu.

“Jika kau ingin meninggalkan aku, lakukan sesuatu yang bisa membuatku lupa padamu.”

“Seohyun …”

“Aku sudah pernah bilang padamu, sampai kapanpun aku tidak akan mengubah keputusanku. Kecuali … jika kau mampu menghapus semua memoriku tentangmu …”

“Baiklah … kalau begitu, aku mau kita membuat sebuah kesepakatan …”

Seohyun diam sejenak. Ia tampak berpikir. Matanya menatap dalam ke wajah Kyuhyun. Ia tidak tahu kesepakatan apa yang akan diajukan oleh Kyuhyun. Namun ia berusaha untuk mendengarkan.

“Ne, baiklah … Aku akan menyetujui kesepakatan darimu. Tapi dengan satu syarat …” ucap Seohyun dengan terbata.

“Satu syarat? Katakan padaku … Dan berjanjilah kau akan menyetujui kesepakatan yang aku ajukan,” balas Kyuhyun tanpa ragu sedikitpun.

Seohyun terdiam. Ia masih ragu untuk berucap. Namun, sekali lagi ia berpikir. Hanya itu satu-satunya cara agar ia tetap dapat mempertahankan Kyuhyun. Yeoja itu begitu frustasi. Ditatapnya kedua bola mata Kyuhyun. Terlihat jelas bahwa Kyuhyun pun tampak lebih frustasi dari dirinya.

“Pernikahan … Aku ingin kita menikah …” ujar Seohyun dengan tegas. Seketika itu juga, Kyuhyun membulatkan mata. Ia merasa paru-parunya terasa sesak.

“Seohyun tapi …”

“Itu syarat dariku! Jika tidak, lupakan tentang kesepakatan yang kau inginkan!”

Kali ini Kyuhyun terdiam. Ia semakin frustasi. Bagaimana mungkin Seohyun meminta sesuatu yang masih tidak mungkin ia lakukan. Menikahi yeoja itu sama saja semakin membawa Seohyun kepada kehidupan kelamnya. Semula, ia ingin membuat yeoja itu perlahan melupakan segala hal tentangnya. Namun, justru sebaliknya. Permintaan yeoja itu lebih gila dari yang pernah ia bayangkan.

“Baiklah … aku setuju dengan syaratmu. Kita akan menikah …  Dan sebagai kesepakatan yang harus kau setujui … berjanjilah kau tidak akan menangis lagi di hadapanku. Berjanjilah kau akan hidup bahagia jika aku benar-benar meninggalkanmu suatu saat nanti …”

“Oppa …”

“Seohyun, aku janji semampu yang aku bisa … aku akan bersamamu. Namun jika akhirnya kita harus berpisah … aku mohon jangan mencariku kembali.”

“Apakah tidak ada kesepakatan yang lain?” tanya Seohyun dengan bibir gemetar.

“Lantas … apakah tidak ada syarat lain selain menikah denganku?”

Seohyun membisu. Airmatanya kembali mengalir. Ia benar-benar tak tahu lagi harus menghadapi Kyuhyun dengan cara seperti apa. Namja itu benar-benar tak menyerah. Bahkan ketika dirinya berusaha untuk terus bertahan, namja itu seolah tetap ingin pergi dari kehidupannya. Walau entah kapan waktu itu, Seohyun tak pernah sanggup membayangkannya.

“Seohyun, apakah kita sepakat?” tanya Kyuhyun memastikan ketika menyadari Seohyun hanya membeku. Ditatapnya yeoja itu kini memejamkan mata. Kemudian mengangguk kecil sambil mengalirkan airmata. Seketika itu juga, Kyuhyun memeluk Seohyun erat.

“Besok … temui aku di sebuah gereja tua yang terletak di kaki bukit Busan. Kemasi barang-barangmu sebelum polisi itu datang. Saat kau datang … aku akan membawamu ke dalam  gereja. Dan kita akan menikah …”

Seohyun semakin terisak. Entah mengapa, walaupun Kyuhyun telah menuruti permintaannya, ia merasakan dadanya sangat sesak. Yeoja itu terus mengalirkan airmata. Berharap bahwa kesepakatannya dengan Kyuhyun hanya akan terjadi dalam mimpi di dalam tidurnya.

***

            Fajar menyapa langit-langit kota Busan. Cahayanya mampu menghangatkan musim dingin yang masih enggan beranjak dari kota itu. Seohyun berjalan menaiki sebuah bukit kecil. Beberapa meter lagi ia akan sampai pada sebuah gereja tua yang terletak tepat di kaki bukit Busan. Perlahan, Seohyun mengedarkan pandangannya. Tak lama, ia mendapati sosok Kyuhyun tengah berdiri tegap di depan pintu gereja. Namja itu tersenyum hangat padanya. Menyambut kehadiran Seohyun layaknya fajar yang kini menerpa sebagian wajah pucat yeoja itu.

Entah semua ini kenyataan atau bukan, Seohyun masih tidak percaya dengan apa yang dirasakannya. Beberapa detik lagi … ia akan benar-benar mengubah kehidupannya. Ya, sebuah keputusan telah ia ambil.

Menikah dengan Kyuhyun … dan ia akan menjalani hidup bersama dengan namja itu sampai batas waktu yang akan memisahkan mereka kembali.

Sejujurnya, semua itu terasa amat menakutkan bagi Seohyun. Ia takut … jika besok adalah hari yang justru akan memisahkan dirinya dengan namja itu.

Sekali lagi Seohyun menepiskan semua pikiran itu. Ia tidak peduli pada hari esok ataupun seterusnya. Ia hanya ingin … hari ini akan menjadi hari kebahagiaan baginya dan Kyuhyun.

“Apa kau sudah siap?” tanay Kyuhyun begitu Seohyun tiba di hadapannya.

“Ne …”

“Kau yakin tidak akan mengubah syaratmu?”

“Jika pada akhirnya hari ini kita pun harus berpisah … aku ingin sedetik sebelum perpisahan kita … aku telah resmi menjadi istrimu. Dan kelak ketika kita ditakdirkan untuk bertemu kembali, aku pun akan tetap menjadi istrimu …”

Kyuhyun terpaku. Ia tidak mengira jika Seohyun akan mengatakan hal itu padanya. Tanpa berkata lagi, Kyuhyun segera meraih tangan Seohyun. Lalu menggenggam tangan itu dan membawanya masuk ke dalam gereja.

Kini mereka berdua berjalan beriringan menuju sebuah altar di gereja. Di hadapan mereka telah berdiri seorang pastur yang akan meresmikan pernikahan mereka. Bukan hanya itu, beberapa kelompok paduan suara pun tengah menyambut kehadiran mereka berdua. Mereka semua berpakaian putih seperti kumpulan malaikat kecil yang akan menyaksikan pernikahan suci mereka. Sesaat, Seohyun mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. Begitu juga dengan Kyuhyun. Mereka berdua tersenyum lembut satu sama lain. Seolah melupakan semua penderitaan yang selama ini mereka rasakan.

Tiba di hadapan seorang pastur, Kyuhyun dan Seohyun saling berhadapan. Kyuhyun memakaikan sebuah penutup kepala di atas kepala Seohyun. Kemudian, secara serempak mereka berdua menghadap ke arah sang pastur.

“Baiklah … kita akan segera memulai upacara pernikahan ini. Apakah kalian berdua sudah siap?” tanya sang pastur sambil tersenyum lembut ke arah Kyuhyun dan Seohyun.

“Ne, kami berdua siap …” jawab Kyuhyun dan Seohyun berbarengan.

“Cho Kyu Hyun … apakah kau bersedia … menerima Seo Joo Hyun sebagai istrimu, menerima segala kelebihan dan kekurangannya, menjalani hidup bersama dengannya dalam keadaan suka maupun duka, menghormati setiap keputusannya, dan juga menjaga dirinya hingga takdir kematian memisahkan kalian berdua …”

“Ne, aku bersedia …”

“Seo Joo Hyun … apakah kau juga bersedia … menerima Cho Kyu Hyun sebagai suamimu, menerima segala kelebihan dan kekurangannya, menjalani hidup bersama dengannya dalam keadaan  suka maupun duka, menghormati setiap keputusannya, dan juga menjaga dirinya hingga takdir kematian memisahkan kalian berdua …”

“Ne, aku bersedia …”

“Baiklah … dengan ini aku menyatakan … bahwa kalian resmi menjadi pasangan suami-istri …”

Kyuhyun dan Seohyun tersenyum bersama. Kyuhyun menatap Seohyun dengan penuh kelembutan. Ia melihat kedua bola mata Seohyun tampak berkaca-kaca. Seiring dengan itu, paduan suara gereja pun mengiringi sebuah lagu yang begitu menenangkan jiwa mereka.

Kyuhyun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku mantelnya. Ia membuka kotak kecil itu, kemudian mengambil sebuah cincin di dalamnya. Perlahan, ia meraih tangan Seohyun dan melingkarkan cincin itu tepat di jari manis Seohyun.  Ia tersenyum lembut pada yeoja di hadapannya itu. Begitu juga dengan Seohyun. Seiring dengan hal tersebut, Kyuhyun pun mengecup lembut bibir Seohyun.

Bersama musim dingin yang masih berlabuh …

Pada sebuah gereja tua … tepat di kaki bukit Busan, Kyuhyun dan Seohyun resmi mengucapkan janji mereka.

Even it hurts 

I’ll always beside you …

TBC

***

JAngan lupa komen or like yaa…

Gomawo

6 Responses to “[FF] Elegy (Chapter 8)”

  1. dewkyusonelf11 8 October 2012 at 10:07 pm #

    Hah~ ya ampun kenapa kehidupan mereka begitu sangat berat, menyedihkan ;( ;( ;( .
    JooHyun terlihat begitu sangat sangat mencintai KyuHyun sampe dy ngga memikirkan resiko ap yg akan dy lalui kelak yg penting dy bisa bersama dengan KyuHyun.
    KyuHyunpun jg begitu sangat mencintai SeoHyun, dy ingin mengorbankan perasaan.a demi menyelamatkan SeoHyun. Ah so sweet~ dech.

    Ah JinWoon menjengkelkan, sangat. Pengen dech tabok2 dy.ischhhhh, walaupun it memang kewajiban.a dy, tp kan dy bisa membantu KyuHyun demi melihat orang yg dicintai.a bahagia. Cintakan ngga harus saling memiliki, yg penting melihat orang yg kita cinta bahagia it ud cukup JinWoon-ah~, jebal jgn mempersulit SeoKyu Jinwoon~, mmm ?

    ChangMin dibalik sikap dingin.a terhadap KyuHyun pasti dy sayang dech ma KyuHyun. #berharap hehhehe.

    Ah eon~ moga SeoKyu bisa menikmati bulan madu(?) mereka sebelum terjadi hal2 yg tdk diinginkan. Dn moga mereka akan tetap kembali bersatu jika mereka terpisahkan.
    Cinta SeoKyu ngga akan lekang oleh waktu(?).

    Eon~ ditunggu part selanjut.a,
    Hwaiting !!🙂

  2. dewkyusonelf11 8 October 2012 at 10:14 pm #

    Ah lupa,
    Eon~ epep.a SUPER DAEBAK~
    Dapat banget feel.a.
    2 thumbs for eon, hehhe.

    Update cepet yah eon😉 !!
    Hehhhe. 😀

  3. han chaerin 8 October 2012 at 11:28 pm #

    Yah ampun kasian nasib seokyu T_T
    Terharu seokyu bisa nikah
    Jinwoon psti ngga bakal diem
    Grup2nya kyu gimana, msh ngincer kyu?
    Lanjut eonnie

  4. sasa 10 October 2012 at 9:47 pm #

    kenapa kehidupan seokyu banyak banget cobaannya kasian seokyu, tapi seneng seokyu udah nikah kayanya jinwoon oppa ga akan diem aja nih, ditunggu lanjutannya ya

  5. rahayu 13 July 2013 at 10:24 pm #

    keren keren keren …..bangeeeeeeeeeeeeeeeetttttttttt

  6. Rizkyy 24 August 2014 at 6:08 pm #

    aku nangis masa :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: